Chaptered · EXO · Family · Fanfiction · Friendship · Happy · School life

Paper Heart — 4th Chapter {It’s Done}

image

Paper Heart — 4th Chapter

| Author | lighstdeer

| Tittle | Paper Heart

| Cast | Byun Baek Hyun; Park Ji Seul; Park Chan Yeol; Oh Se Hun; Xi Lu Han; Kim Kai; Lee Soo Yeon; Xi Lu Han

| Genre | Family, Friendship

| Rating | G

| Length | Chaptered {2811 words}

| Disclaimer | The story is pure mine. Don’t copy it without my permission {No plagiarism}. The cast are belong to god and  their parents.

Summary :

Ji Seul tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang akhir-akhir ini sering ia perhatikan akan menjadi seorang yang begitu penting dalam hidupnya. Ia pikir semuanya akan menjadi baik-baik saja, seperti apa yang yang ia harapkan.

Tapi tidak, nampaknya takdir kini sedang bermain-main dalam kehidupan gadis itu. Semuanya terasa menyedihkan tapi tidak ada yang mengerti perasaan Ji Seul. Ia terlalu baik dalam menyembunyikam perasaannya.

I try to act strong on the outside but my heart is like paper. I got a paper heart.

lightsdeer present

***

Pagi itu rasanya Ji Seul ingin segera melenyapkan diri saat itu juga. Ia bahkan tidak benar-benar mendapatkan tidur yang cukup semalam.

Ada yang mengusiknya.

Bukan sesuatu yang terdengar begitu menyeramkam. Hanya saja ia sulit tidur, ia terus memikirkan sesuatu. Itu membuatnya merasa tidak nyaman dalam tidurnya dan harus terjaga beberapa kali.

Semalam mungkin salah satu malam terburuknya.

Kemarin, ia turun ke lantai bawah menuju ruang makan untuk menyantap makan malamnya. Perutnya sudah terasa sangat lapar dan perlu diisi.

Seperti biasa, Ji Seul akan menemukan kedua orang tuanya duduk di atas kursi makan. Ayahnya yang sibuk membaca koran sembari menunggu Ji Seul sedangkan ibunya yang sesekali mengobrol kecil dengan ayahnya atau dengan para pelayan yang ada di ruang makan.

Makanan sedang disajikan di atas meja makan saat Ji Seul datang. Ia mungkin sedikit terlambat dari jam makan malam yang ditentukan.

Beruntung karena Chan Yeol juga baru tiba saat itu, lebih lama beberapa detik darinya. Ia tidak perlu mendengar nasehat yang akan memakan waktu begitu lama.

Ji Seul mengambil tempat di samping ibunya yang malam itu mengenakan gaun dengan warna cream selutut. Terlihat manis dan Ji Seul juga menyukai design-nya yang begitu simpel.

Ditambah dengan sebuah jepit rambut bermotif polos yang ia sematkan dirambutnya.

Makan malam berjalan dengan tenang, dan lagi dengan menu yang membuat Ji Seul semakin senang saat memakannya. Sepiring Classic Kung Pao Chicken ada di atas meja, salah satu makanan favorit Ji Seul.

Ji Seul sangat menyukai makanan khas China itu yang dibuatkan oleh koki. Rasanya Ji Seul ingin terus makan sampai perutnya terasa kenyang.

“Ji Seul,” Mr. Park memanggil nama gadis itu setelah ia selesai mengelap bibirnya dengan tisu. Piringnya sudah kosong.

Gadis itu mengangkat kepalanya, ia baru saja selesai meneguk segelas air putih. “Ne?” jawabnya pelan.

“Lain kali, lebih perhatikan sikapmu.” Ia tertegun.

Perkataan Mr. Park memang tidak terdengar begitu menakutkan, sebenarnya.

Mungkin Ji Seul hanya terlalu kaget.

Mr. Park pasti sudah mendengar semuanya. Insiden kecil di kantin siang tadi tidak mungkin bisa ditutupi, Mr. Park tahu segala hal.

“Ne appa.” Ji Seul menunduk kecil.

Ayahnya mungkin terlihat marah. Tapi tidak, ia hanya memberi Ji Seul suatu nasehat yang perlu didengar oleh gadis itu. Berharap bahwa Ji Seul tidak akan melakukan hal-hal bodoh yang tidak seharusnya gadis itu lakukan.

Tuan dan Nyonya Park kemudian pergi setelah perkataan kecil itu. Meninggalkan Chan Yeol yang masih mengunyah makan malam yang masih ada di dalan mulutnya.

Gadis itu baru saja hendak pergi jika saja Chan Yeol tidak bangkit secara tiba-tiba dari bangkunya dan menghentikan langkah Ji Seul.

Ia menarik tangannya pelan.

“Kau tidak apa-apa ‘kan?”

Ji Seul diam. Chanyeol terlihat baik-baik saja beberapa menit yang lalu—ia terlihat mencoba mencerna makanan dengan gigi-gigi putih dan besarnya itu.

Ji Seul tidak mengerti kenapa ia bisa bertindak begitu tiba-tiba dan kemudian menannyakan keadaan Ji Seul.

Tuhan, dia baik-baik saja.

“Ada apa denganmu?” Gadis itu malah balik bertanya.

“Insiden tadi. Mungkin saja sesuatu terjadi padamu?”

Chan Yeol memutar-mutar tubuh Ji Seul menggunakan kedua tangannya, melihat keadaan gadis itu yang benar-benar tidak tergores sedikit pun. Baek Hyun adalah satu-satunya orang yang perlu diperlakukan seperti ini.

“Aku baik-baik saja sungguh” Ji Seul mencoba memasang mimik wajahnya menjadi lebih baik, ingin Chan Yeol percaya dengan keadaannya.

“Well, tentang laki-laki itu,” Chan Yeol memberi jeda.

Ji Seul penasaran. Sesungguhnya ia tahu benar siapa yang sedang dibicarakan oleh Chan Yeol—siapalagi kalau bukan pria sial yang terkena tumpahan jus miliknya sendiri.

Hanya saja Ji Seul tidak ingin terlalu yakin kalau Chan Yeol kini sedang membicarakan pria itu.

“Kenapa?” Ji Seul berucap pelan.

Chan Yeol melihat ke arahnya. Masih diam dengan memilih untuk merapatkan bibirnya, masih merasa ragu untuk mengatakan hal itu.

“Um,”

Ji Seul mendengus. Chan Yeol benar-benar sedang menguji kesabarannya saat itu. Ji Seul sedang tidak ingin membuang waktunya, berdiri di sini menunggu Chan Yeol yang entah kapan akan mengatakan hal yang ada di dalam hatinya—membuat Ji Seul penasaran.

“Baiklah, kirimi saja aku pesan. Kupikir kau malu mengatakannya?”

“Tidak.” Chan Yeol berhenti sejenak. “Kau tidak perlu terlalu memikirkannya aku sudah meminta maaf secara langsung pada laki-laki itu”

Ji Seul rasanya ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Chan Yeol dan masuk ke dalam kamarnya. Sungguh, ia tidak pernah berpikir bahwa Chan Yeol akan mengatakan hal itu padanya.

Buruknya lagi, ia sama sekali  tidak pernah berpikir kalau Chan Yeol akan meminta maaf secara langsung pada pria itu.

Ji Seul bukan gadis yang cukup bodoh untuk tidak tahu atas apa yang ia perbuat. Semua itu bukan kesalahan kakaknya, bukan kesalahan Chan Yeol dan untuk apa pria itu meminta maaf?

Mungkin saja pria itu sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang Ji Seul—sesuatu yang tidak baik atau mungkin konyol. Ia pasti bertanya-tanya, tidak bisakah Ji Seul yang datang sendiri dan meminta maaf langsung atas perbuatannya sendiri?

Bukannya datang dengan Chan Yeol yang notabenya adalah kakak Ji Seul dan ia-lah yang meminta maaf?

Terdengar memalukan.

Sebab itu, pagi ini Ji Seul bangun lebih awal dari biasanya, hanya untuk menghindari seorang Chan Yeol.

Takut jika nanti bisa saja Chan Yeol akan menannyakan pada Ji Seul atas tindakannya yang langsung saja melenggang pergi tanpa sepatah kata pun setelah Chan Yeol mengatakan itu padanya.

Ji Seul sedang tidak ingin menjawabnya pagi ini, itu akan memerlukan waktu yang lama dan Ji Seul tidak pandai mengutarakan sesuatu.

Ia bahkan melewatkan sarapannya pagi ini—demi untuk tidak menemukan Park Chan Yeol di meja makan. Ia harus rela meninggalkan sarapan yang tentunya lezat itu. Sebenarnya ia setengah tidak rela, tapi apa boleh buat?

Ia juga tidak merespon lama ketika pelayan Song menemukan gadis itu berlari dengan cukup tergesa meninggalkan pekarangan rumah.

Menannyakan kenapa Ji Seul tidak menyantap sarapan paginya yang tidak biasa ia lakukan. Gadis itu hanya menjawab,

“Soo Yeon mengirimiku pesan kalau aku harus datang pagi ini. Ia punya tugas yang harus diselesaikan dan butuh bantuanku.”

Tentu saja itu semua adalah bohong. Ia perlu menggunakan alasan itu agar pelayan Song percaya padanya tanpa bertanya apa-apa lagi.

Ia tidak ingin berlama-lama atau tidak, Chan Yeol akan menemukannya dan itu bukanlah suatu hal yang ia inginkan.

Beruntung karena paman Lee sudah mulai bekerja hari ini—ia baru saja sembuh dari sakitnya. Pria paruh baya itu bisa mengantar Ji Seul untuk pergi ke kampus seperti biasanya. Gadis itu tidak perlu lagi menunggu Chan Yeol dan pergi bersamanya.

Saat itu pukul setengah tujuh pagi saat Ji Seul tiba di areal kampus. Waktu yang terlalu awal karena kelas pertamanya dimulai pukul 10. Belum terlalu banyak mahasiswa yang datang saat itu, lapangan kampus masih terlihat lenggang.

Tapi Ji Seul tidak perlu khawatir jika ia akan menghabiskan waktunya sendirian sampai kelas pertamanya dimulai. Ia bisa menemukan Soo Yeon di perpustakaan pagi ini.

Gadis itu baru saja mengirimi Soo Yeon pesan dan baru saja mendapatakan balasan beberapa menit setelahnya. Mengatakan jika saat ini Soo Yeon juga baru tiba di kampus dan akan menghabiskan waktunya untuk membaca beberapa buku sampai kelas pertamanya dimulai.

Gadis itu merajut langkahnya ke arah perpustakaan yang terletak di bagian belakang kampus. Sesekali berjumpa dengan beberapa mahasiswa di koridor yang terlihat masih sepi, Ji Seul tidak perlu merasa aneh berjalan sendirian.

Ia sampai di perpustakaan, berhenti sejenak dan berdiri di depan pintu bercat cokelat dengan motif yang unik itu sebelum akhirnya memilih masuk. Soo Yeon mungkin sudah menunggunya di dalam.

“Morning,” Ji Seul menyapa seorang gadis yang terlihat sedang sibuk dengan buku di hadapannya.

Ia penjaga perpustakaan.

Seorang gadis dengan kemeja putih dan kacamata burung hantu-nya menyambut Ji Seul dengan senyuman kecil.

“Morning Ji Seul,” balasnya. “Tumben sekali kau datang sepagi ini.”

“Bertemu Soo Yeon, ada yang harus kami bicarakan.” Ji Seul menjawab.

Gadis di hadapannya itu mengangguk. Sudah sangat tahu siapa yang sedang Ji Seul bicarakan, sahabatnya yang selalu melengket kemana pun ia pergi.

“Ia ada di tempatnya. Kupikir ia terlihat sedikit kacau?”

Ji Seul tidak begitu yakin, seorang Soo Yeon terlihat seperti itu? Gadis itu terbiasa dengan penampilan yang membuat dirinya terkesan dingin da angkuh. Atau mungkin sesuatu memang terjadi padanya.

“Baiklah, aku akan menannyakan keadannya nanti.” Ji Seul memberi gesture kalau ia akan menyusul ke tempat Soo Yeon. “Sampai jumpa Hee Jin!”

Ji Seul kemudian berjalan ke ujung perpustakaan—lumayan jauh dari tempatnya berada. Soo Yeon memang menyukai tempat seperti itu karena tidak akan ada banyak orang yang datang.

Mahasiswa terlalu malas untuk pergi ke ujung perpustakaan dan tidak akan ada banyak orang yang berlalu-lalang. Soo Yeon akan semakin berkonsentrasi dengan buku bacaannya.

Ji Seul menemukannya—dengan celana jeans panjang dan kemeja berwarna putih yang ia gulung hingga siku. Mungkin Hee Jin benar.

Gadis itu mendekat ke arah Soo Yeon berada, tidak ingin menganggu gadis itu dengan membuat bunyi yang terlalu berisik. Diam-diam gadis itu mengambil tempat untuk duduk di hadapan Soo Yeon.

“What’s up?” Ji Seul berkata.

Soo Yeon menggerakan dagunya, membuat kepala gadis itu terangkat ke atas. Memandang Ji Seul dengan ekspresi penuh tanda tanya. Well, mungkin Soo Yeon tidak berpikir kalau Ji Seul akan datang secepat ini.

“Kupikir saat kau mengirimi-ku pesan, kau sedang menggosok gigimu atau masih tidur di balik selimut.”

Soo Yeon benar-benar tidak percaya.

Ini masih pukul setengah tujuh lewat dan ia menemukan Ji Seul disini. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya.

Ji Seul bukan seorang morning person, ia biasanya akan datang atau tiba 15 menit sebelum kelasnya dimulai. Ini bahkan lebih dari satu jam dari jam kelas pertama Ji Seul.

“Aku bersungguh-sungguh saat itu.” Ji Seul mendengus.

“Kalau begitu sesuatu pasti telah terjadi?” Soo Yeon mulai menebak. Ia benar-benar penasaran.

Ji Seul mengangguk sebagai jawaban. Ia pikir ia perlu menceritakan pada Soo Yeon bagaimana Chan Yeol melakukan hal bodoh seperti itu kemarin siang.

“Begitulah,” Ji Seul berkata datar, dengan wajah yang terlihat sama datarnya. “Tapi sesuatu pasti juga sudah terjadi denganmu ‘kan?”

“Apa?” Soo Yeon balik bertanya.

Ji Seul sudah bisa menebak, kalau Soo Yeon akan bersikap seolah semuanya baik-baik saja atau berusaha menyembunyikan sesuatu dari Ji Seul.

Lee Soo Yeon bukanlah tipikal gadis yang mudah menceritakan segalanya pada orang-orang—termasuk Ji Seul sekalipun.

“Hee Jin berkata kalau kau tidak terlihat seperti biasanya,” Ji Seul memperhatikan wajah gadis itu dan penampilannya saat ini.

“And see? Aku juga berpikiran yang sama dengan Hee Jin. Kau terlihat sedikit kacau.”

Soo Yeon akhirnya menghembuskan nafas kecil. Mungkin kali ini ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya  dengan baik. Ji Seul sudah bisa membaca ekspresi miliknya.

“Memang, sesuatu yang sedikit buruk terjadi semalam.”

Ji Seul memasang wajah seriusnya, merasa tertarik dengan apa yang selanjutnya akan ia dengar. “Lalu?”

“Um, hanya Min Woo yang melempar handphone-ku dan membuatnya tidak bisa menyala lagi.”

Soo Yeon bercerita dengan wajah datar—tapi ada sedikit rasa sedih yang terselip disana.

“Hanya?” Ji Seul mengangkat dahinya. “Kau yakin?”

“Well, tidak. Jujur, aku benar-benar marah saat Min Woo melemparnya dari lantai atas rumah kami.”

Sial itu terlalu tinggi.

“Benda itu jatuh saat Min Woo menggunakannya sebagai kapal laut dan bermain di trali besi tangga”

Ji Seul merasa sedikit ngeri. Min Woo mungkin saja bisa bernasib sama dengan handphone milik Soo Yeon jika ia tidak berhati-hati.

“Aw, it hurts.” Ji Seul merespon.

“Aku seharusnya tidak meninggalkan Min Woo sendirian dan meletakkan handphone-ku didekatnya,” Soo Yeon mendengus. “Aku hanya bertanya-tanya dimana Chang Min saat itu.”

Soo Yeon bercerita tentang dirinya yang tidak menemukan Chang Min dimanapun saat ia menemukan handphonenya tewas. Ia malah menemukan Min Woo yang asik menonton TV saat ia kembali dari kamar mandi.

Tidak merasa bersalah setelah menjatuhkan handphone milik Soo Yeon, atau paling tidak memberi tahu gadis itu langsung. Tidak usah membuatnya merasa bingung mencari keberadaan benda itu setelah hilang dari tempatnya.

“Dimana kakak iparmu?”

“Mereka berdua ternyata pergi untuk membeli sesuatu,” Soo Yeon memasang tampang masamnya. “Mereka tidak tahu apa yang terjadi sampai aku memberi tahu.”

Ji Seul mengangguk. “Kau harus memberi surat pada Chang Min untuk mengganti handphone-mu”

Soo Yeon melemparkan tatapan datarnya pada Ji Seul. “Jangan bercanda, aku tidak perlu memberi surat romantis pada Chang Min hanya untuk itu.”

“Aku hanya bercanda.”

“Aku sudah mengatakan itu pada Chang Min sebenarnya.” Soo Yeon menarik napas. “Dia akan menggantinya.”

“Lalu bagaimana dengan Min Woo?”

Ji Seul sedikit penasaran dengan anak kecil itu. Sebenarnya apa yang membuat dirinya berpikiran jika handphone adalah barang yang mirip seperti kapal laut?

Imajinasinya mungkin saja terlalu tinggi.

“Chang Min memarahinya setelah aku melapor pada pria itu.” Soo Yeon terlihat sedikit mengubah ekspresinya. “Aku merasa kasihan melihatnya, tapi setidaknya anak itu memang perlu diberi sedikit pengertian.”

Soo Yeon benar. Min Woo mungkin bisa saja bersikap seperti itu terus jika Chang Min atau ibunya tidak memberi penjelasan. Soo Yeon mungkin juga merasa sedikit bersalah, tapi itu demi kebaikan Min Woo.

“Kuharap Chang Min tidak memarahinya terlalu keras.” Ji Seul berbisik.

“Tidak.”

Soo Yeon tahu benar tentang apa yang harus Chang Min lakukan. Ia tidak akan melakukan hal itu.

Ji Seul hanya mengangguk sebagai jawaban. Mereka diam beberapa saat sebelum akhirnya Soo Yeon ingat tentang sesuatu.

Alasan mengapa Ji Seul datang sepagi ini dan menemuinya di perpustakaan. Sesuatu yang sempat mereka bicarakan sebelum berganti topik.

“Jadi apa yang terjadi semalam?” Soo Yeon kembali bertanya.

Sedikit penasaran tentang percakapan mereka yang sempat tertunda sebelumnya.

“Kakakku, ia melakukan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku begitu kaget saat ia menceritakan hal itu padaku.”

Soo Yeon mengangkat alisnya. Ia mulai berpikir dan menebak-nebak sesuatu yang mungkin saja Chan Yeol lakukan.

Soo Yeon pikir, mungkin itu tentang sesuatu yang tidak Ji Seul sukai. Atau mungkin sesuatu yang memalukan?

“Jadi apa?” Soo Yeon memasang wajah tanda tanya-nya. “Apa ia melakukan hal bodoh lagi?”

Ji Seul mengangguk. Atau mungkin itu sesuatu yang lebih dari kata bodoh. Memalukan?

“Ia berkata padaku kalau ia datang menemui pria itu.” Ji Seul memberi jeda. “Dia yang meminta maaf secara langsung padanya. Itu suatu hal yang benar-benar bodoh”

Soo Yeon membuat ekspresi wajahnya, terlihat aneh. Itu memang terdengar sedikit menggelikan.

Pertanyaan Soo Yeon sama seperti apa yang dipikirkan Ji Seul pertama kali.

Untuk apa ia yang meminta maaf?

“Mungkin saja Baek Hyun berpikir kalau kau terlalu bodoh untuk tidak meminta maaf atas kesalahan yang kau lakukan.”

Ji Seul menatap lurus ke arah Soo Yeon. Sesuatu yang tidak biasa terselip dalam kalimat gadis itu.

“Namanya Baek Hyun?”

Soo Yeon mengangguk.

“Ia setingkat di atas kita. Seperti kakakmu.” Soo Yeon menambahkan.

“Bagaimana kau tahu namanya?”
Ji Seul mungkin sedikit bingung pada awalnya. Bagaimana mungkin Soo Yeon tahu sesuatu tentang orang lain? Gadis itu terlalu pendiam—atau mungkin juga kurang bergaul untuk tahu hal sejenis itu.

“Aku sudah berpikir kalau sepertinya wajahnya tidak asing bagiku,”

Jadi Soo Yeon sudah pernah bertemu dengan Baek Hyun?

“Ternyata pria itu adalah wakil klub menyanyi.”

Ji Seul tertegun. Klub menyanyi? Itu adalah klub yang akan Ji Seul masuki minggu depan. Jadi kemungkinan ia akan bertemu dengan Baek Hyun, lagi? Sejujurnya ia belum begitu yakin.

Mengenai hal mengapa Soo Yeon mengetahui tentang identitas Baek Hyun, gadis itu adalah salah satu anggota klubnya. Jadi mungkin karena itu Soo Yeon sudah merasa tidak asing dengan wajah Baek Hyun.

“Pria bernama Baek Hyun itu adalah wakil klub menyanyi?” Ji Seul bertanya lagi.

Mencoba memastikan, mungkin saja telinganya sempat mengalami gangguan.

Soo Yeon mengangguk.

“Bagaimana mungkin aku akan menampakkan wajahku di depan pria bernama Baek Hyun itu lagi!”

Dia terlalu malu. Sungguh.

Sampai detik ini pun ia belum mengutarakan kata maaf pada Baek Hyun. Bagaimana jika Ji Seul benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk mengatakannya?

Sementara mereka akan bertemu, setidaknya dalam rentan waktu satu minggu. Itu akan benar-benar memalukan, ditambah lagi dengan perbuatan Chan Yeol kemarin.

“Kalian sedang menggosipi seseorang disini?”

Ji Seul menoleh, mengangkat kepalanya yang sebelumnya ia benamkan di atas meja setelah mendengar suara seseorang.

Itu jelas-jelas bukan suara Soo Yeon.

Sedangkan hanya mereka berdua yang ada di perpustakaan sepagi ini.

“Suho?”

Ji Seul memasang ekspresi bingung sesaat setelah ia melihat ke arah wajah pria dengan kaos biru langitnya itu.

Sedangkan pria yang dipanggil Suho itu hanya tersenyum kecil. Sedikit menunjukkan gigi putih rapinya dan mengangguk.

“Yeah,” ucapnya. “Apa yang kalian lakukan disini?”

Suho mungkin sudah tahu salah satu kebiasaan Ji Seul. Tentang ia yang tidak pernah datang sepagi ini. Adalah sebuah hal yang jarang terjadi menemukan Ji Seul ada diwaktu seperti ini.

“Um membahas,” Ji Seul berpikir sejenak untuk membuat alasan. “Membahas sesuatu, kau tidak perlu mengetahuinya.”

“Sejak kapan perpustakaan menjadi tempat untuk membahas sesuatu?” Suho menaikkan alisnya.

“Maksudku, well itu tidak apa jika tentang tugas, tapi kupikir kalian baru saja menggosipi seseorang?”

Ji Seul menahan napas. Kedengarannya Suho menguping pembicaraan mereka.

Soo Yeon melirik ke arah Suho yang berdiri di samping meja. Melemparkan tatapan dingin dan ia cukup merasa terganggu.

“Aku tidak tahu siapa kau,” Soo Yeon berucap dingin. “Tapi, bukan bagian dari urusanmu.”

Soo Yeon tidak pernah suka jika seseorang masuk ke dalam pembicaraan mereka. Ditambah jika orang-orang itu bertingkah seolah mereka tahu segalanya.

“Kalian menggosipi temanku dan kupikir itu adalah urusanku.” balasnya.

Ji Seul merasa kaget, Suho jelas melihat hal itu. Sedangkan Soo Yeon, ia hanya diam. Walaupun gadis itu sempat berpikir kalau Suho hanya membual.

“Huh?”

“Ternyata kau disini, aku mencarimu kemana-mana”

Ji Seul diam. Waktu terasa berhenti berputar atau itu hanya perasaanya.

Itu Baek Hyun, pria yang baru saja mereka bicarakan. Muncul di hadapan mereka dan berdiri di samping Suho dengan jaket jeans-nya.

***

Jam menunjukan pukul setengah delapan, beberapa murid mulai terlihat memadati areal kampus yang sebelumnya sepi.

Mungkin ada yang sedikit berbeda kali ini. Biasanya Ji Seul hanya akan pergi ke kantin dengan Soo Yeon seorang, tidak ada yang lain.

Tetapi sekarang gadis itu datang dengan Suho dan teman laki-lakinya, yang Ji Seul ketahui adalah pria yang ia tabrak kemarin.

Ji Seul duduk dengan perasaan sedikit tidak nyaman di atas bangku. Berbeda dengan Soo Yeon yang dengan biasa menyantap sarapan paginya.

Mereka berempat sedang menikmati sarapan bersama. Tentunya di atas meja yang sama dan beruntung karena Suho-lah yang duduk di hadapan Ji Seul.

Itu mungkin akan terasa sulit untuk Ji Seul jika pria bernama Baek Hyun itulah yang duduk di depannya.

Bisa-bisa rasa makanan yang ia pesan terasa hambar dan ia kehilangan nafsu makannya karena grogi.

Ji Seul mengunyah makanannya dengan  pelan, sepiring sandwich ia pilih sebagai menu sarapannya kali ini. Ditemani dengan segelas susu segar yang ada di sampingnya.

Suho, mungkin bisa dikatakan kalau pria itulah yang membuat rencana ini—dengan tiba-tiba. Sesaat setelah ia tahu tentang insiden tumpahan jus yang melibatkan Baek Hyun.

Berkata, “Bagaimana kalau kau mentraktir Baek Hyun atas kesalahanmu? Kupikir itu bukanlah sesuatu yang buruk?”

Itu juga termasuk mentraktir dirinya.

Tanpa Ji Seul pikir lagi pun ia sudah tahu ada maksud dibalik perkataan Suho. Pria itu benar-benar.

“Yah,” Suho berucap. “Apa rasa sandwich yang kau pesan terasa hambar?”

Suho menatap Ji Seul, menannyakan tentang rasa sandwich-nya yang masih tersisa sebagian. Mungkin Suho menyadari ekspresi Ji Seul atau ia punya perasaan kalau ia tidak begitu menikmati sarapannya.

“Tidak, bukan begitu.” Ji Seul mengelak.

Karena jujur ia tidak punya masalah dengan sandwich-nya, dirinya sendirilah yang bermasalah.

Ia melirik kecil ke arah Baek Hyun, menemukan pria itu yang sibuk dengan makanannya. Well, ia merasa beruntung kalau pria itu tidak begitu menyimak pembicaraan mereka.

Suho hanya mengangguk. Tidak ingin memperpanjang lagi masalah tentang sandwich Ji Seul karena itu tidaklah penting.

Beberapa menit selanjutnya mereka lanjutkan dalam diam. Ji Seul merasa canggung jadi sulit untuknya memulai percakapaan.

Ia hanya berbicara hanya jika Soo Yeon atau Suho yang mengajaknya terlebih dahulu, itupun akan selalu diakhiri dengan jawaban pendek dari Ji Seul.

Makanan di atas piring mereka sudah terlihat kosong. Mungkin hanya tersisa remah-remah roti dari piring milik Ji Seul dan bekas saus di atas piring Suho dan milik Baek Hyun.

“Terimakasih atas sarapannya.” ucap Suho kemudian.

Ji Seul menjengit. “Jangan lupa untuk mengganti uangku.”

Ji Seul tidak benar-benar serius ketika ia akan mentraktir Suho. Hanya Baek Hyun-lah tanggungannya disini.

Seingatnya, ia tidak berbuat sesuatu yang salah pada sepupunya itu.

“Kupikir kau memberikanku secara gratis?” Ada nada sedih terselip di kalimatnya. Walaupun itu hanya bercanda.

“Aku hanya perlu mentraktir,” Ji Seul memberi jeda. “Baek Hyun-ssi.”

“Anggap saja kalau ini adalah ucapan selamat datang darimu?”

Suho tampaknya belum mau menyerah untuk mendapatkan makanan gratis dari Ji Seul.

“Sifatmu memang belum pernah berubah ya?” Baek Hyun menatap Suho. “Selalu saja memaksa.”

Ji Seul mendengarnya, ini pertama kalinya pria itu berbicara setelah mereka tiba di kantin dan memakan sarapannya.

Ji Seul juga bahkan sedikit melihat senyuman pria itu yang muncul hanya beberapa detik lamanya.

“Benar.” Ji Seul mengangguk. Menyetujui perkataan Baek Hyun.

“Jangan mencoba memojokkanku.”

Suho melemparkan tatapan sinisnya pada Ji Seul dan Baek Hyun. Walaupun hanya untuk sementara.

“Dari awal dia memang sudah terlihat menyebalkan.” Soo Yeon berucap.

Padahal sebelumnya ia lebih memilih untuk menutup rapat mulutnya ketimbang ikut masuk dalam pembicaraan mereka.

“Kau juga terlihat begitu menyebalkan nona.” Suho tidak mau kalah.

Ia memang sudah pernah berjumpa beberapa kali sebelumnya dengan Soo Yeon, mengingat gadis itu adalah sahabat Ji Seul yang selalu melengket kapan pun dengannya.

Mau tidak mau Suho harus bertemu dengannya jika ia bertemu dengan Ji Seul. Walaupun ia pikir Soo Yeon adalah seorang gadis yang cukup menyebalkan.

“Kapan kalian akur?” Ji Seul mendengus. Bisa dikatakan kalau ia adalah saksi utama dari setiap pertengkaran Suho dan Soo Yeon.

“Tidak untuk saat ini.” Soo Yeon menjawab datar.

Ji Seul hanya memutar kedua bola matanya, ia memang tidak akan pernah mengerti tentang jalan pikiran kedua orang itu.

Keheningan terjadi selama beberapa menit setelahnya. Soo Yeon lebih memilih untuk membaca novel yang ada di pangkuan gadis itu sedangkan Suho sibuk membalas pesan dari seseorang.

Sedangkan Baek Hyun? Ia juga memainkan handphone-nya dan sesekali melihat ke arah lain.

“Baek Hyun-ssi” ucap Ji Seul yang membuat pria itu menoleh dengan wajah bingung.

“Well, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku mungkin terlihat konyol karena baru mengatakannya saat ini.”

Ji Seul mengatakannya, disaat ia merasa kalau itu adalah waktu yang tepat. Ia harus mengatakannya saat ini atau ia mungkin tidak bisa mengatakannya di lain waktu.

Walaupun ia mungkin akan berjumpa beberapa kali dengan Baek Hyun mengingat ia adalah salah satu anggota klub menyanyi.

Baek Hyun mengangguk. “Sejujurnya aku sudah melupakannya. Ditambah lagi dengan pria jangkung yang mengaku sebagai kakakmu, itu ia mengucapkan kata maaf padaku.”

“Oh tentang itu.” Ji Seul berpikir sejenak. “Aku tidak tahu kalau ia akan melakukannya. Mungkin kau berpikiran kalau aku adalah seorang yang pengecut, tapi sungguh aku tidak bermaksud.”

“Park Chan Yeol kadang bertingkah aneh.” Suho menambahkan. “Tapi kadang ia adalah sosok kakak yang baik.”

“Benar, maafkan untuk yang satu itu.” Ji Seul melirik ke arah Baek Hyun, tidak begitu berani untuk langsung menatap lurus ke wajahnya.

“Tidak apa-apa.”

Ji Seul menghembuskan nafas. Beruntung karena semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Ia tidak perlu merasa terbebani lagi sekarang dan ia tidak perlu merasa terganggu dalam tidurnya.

Tapi kemudian Ji Seul teringat akan sesuatu. Tumpahan jus yang terkena kaos milik Baek Hyun, ia pikir gadis itu perlu menggantinya.

“Bagaimana dengan kaosmu?” Ji Seul kembali melirik ke arah Baek Hyun. “Kupikir aku harus menggantinya?”

“Tidak usah dipikirkan, kau tidak perlu menggantinya.” Baek Hyun menjawab dengan cepat.

Ia pikir sepiring spaghetti sudah cukup sebagai bentuk permintaan maaf.

“Tapi aku mungkin merasa tidak enak nanti.” Ji Seul tetap memaksa.

Bagi Ji Seul jika Baek Hyun akan menerimanya, ia tidak perlu memikirkan tentang kesalahan yang ia perbuat pada pria itu lagi.

“Kau tidak perlu—”

“Sudahlah terima saja,” Suho menyela. “Gadis itu mungkin saja akan tetap memaksa sampai kau mau menerimanya.”

Ji Seul melemparkan tatapan datarnya pada Suho. Secara tidak langsung Suho sudah menyamakan Ji Seul dengan seorang gadis pemaksa.

Terdengar jelek.

Setelah beberapa detik berpikir, Baek Hyun akhirnya menerima permintaan Ji Seul.

“Baiklah.” jawabnya.

Walaupun sebenarnya Baek Hyun merasa tidak apa-apa tentang kaos putihnya itu.

TBC

lightsdeerⓒ2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s