Chaptered · Family · Fanfiction · Friendship · Happy · School life

Paper Heart — 3rd Chapter {Apologizing?}

image

Paper Heart — 3rd Chapter

| Author | lighstdeer

| Tittle | Paper  Heart

| Cast | Byun Baek Hyun; Park Ji Seul; Park Chan Yeol; Oh Se Hun; Xi Lu Han; Kim Kai; Lee Soo Yeon

| Genre | Family, Friendship

| Rating | G

| Length | Chaptered {4601 words}

| Disclaimer | The story is pure mine. Don’t copy it without my permission {No plagiarism}. The cast are belong to god and  their parents.

Summary :

Ji Seul tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang akhir-akhir ini sering ia perhatikan akan menjadi seorang yang begitu penting dalam hidupnya. Ia pikir semuanya akan menjadi baik-baik saja, seperti apa yang yang ia harapkan.Tapi tidak, nampaknya takdir kini sedang bermain-main dalam kehidupan gadis itu.

Semuanya terasa menyedihkan tapi tidak ada yang mengerti perasaan Ji Seul. Ia terlalu baik dalam menyembunyikan perasaannya.

I try to act strong on the outside but my heart is like paper. I got a paper heart.

lightsdeer present

***

Matahari bersinar begitu terik, halaman dipenuhi oleh siswa yang sedang berjalan tergesa ke dalam kampus. Tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk berjalan, apalagi membiarkan kulit mereka terpapar di bawah teriknya sinar matahari.

Matahari seperti sedang berada di atas kepala, bagaimana tidak kali ini jam menunjukan pukul dua belas siang.

Saat ini juga, Ji Seul mungkin merasa seisi kantin sedang memperhatikan dirinya. Gadis dengan celana jeans birunya itu bahkan terlihat sedikit terkejut. Ia juga bahkan tidak berucap sedikit pun.

Hanya sebuah kata yang refleks ia ucapakan setelah mendengar sesuatu yang jatuh ke lantai akibat ulahnya. Tapi buruknya, masalah lain yang mungkin jauh terlihat lebih rumit kini ada di hadapan gadis itu.

Ji Seul bisa merasakan pergerakan Soo Yeon yang ada di belakangnya, gadis itu berniat berdiri di samping Ji Seul dan melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.

Tumpahan jus berceceran di lantai membentuk genangan kecil yang berasal dari gelas minuman pria itu. Sebagian terlihat menempel di permukaan kaos yang ia gunakan, membentuk sebuah noda. Terlihat cukup kotor ditambah dengan tumpahan kecil dari saus tomat yang ia bawa.

Ji Seul menahan napasnya, sungguh ia tidak bermaksud untuk melakukan hal itu. Ia hanya ingin bangkit dan menghindari Chan Yeol, atau mungkin itu memang kesalahannya. Ia kurang memperhatikan keadaan sekelilingnya, ia terlalu tergesa-gesa. Lagipula Chan Yeol bukan seorang monster atau buruknya seorang psychopath yang harus dihindari.

Keheningan melanda sesisi kantin, semua pasang mata seperti sedang mengarahkan seluruh perhatiannya ke arah Ji Seul dan seorang pria yang terkena tumpahan jus di kaosnya. Seolah Ji Seul baru saja melakukan kesalah besar, atau mungkin memang seperti itu.

Ketukan langkah kaki terdengar setelah hembusan nafas berat dari seseorang. Ji Seul masih membeku, tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan.

Semua orang memperhatikannya, seolah apapun yang akan gadis itu lakukan akan menjadi sebuah kesalahan. Ia seperti harus berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu. Ia penjahatnya disini.

Ji Seul terus menatap ke arah lantai dan ujung sepatu kets putihnya dengan diam, hal itu terus ia lakukan selama semenit. Mungkin terlihat cukup aneh karena Ji Seul belum juga melontarkan permintaan maaf secara langsung pada pria itu.

Sebuah kata maaf yang refleks tidak masuk dalam hitungan.

Sampai akhirnya Ji Seul menyadari kalau pria di hadapannya tadi kini sudah menghilang, ia bisa merasakannya. Pria itu sudah melenggang pergi dengan tampang kesalnya, ia bahkan mengibas-ngibaskan kaos putihnya yang terkena tumpahan jus.

Ia juga terlihat sedang mengumpat, tapi tidak ingin menunjukkan kekesalannya pada Ji Seul secara langsung.

“Ma-maaf.”

Mungkin hanya hembusan anginlah yang mendegar ucapan kecil Ji Seul, terlalu kecil hingga membuat Soo Yeon yang berdiri di samping gadis itu merasa ragu kalau Ji Seul baru saja berucap sesuatu atau tidak.

Seorang laki-laki lain yang Ji Seul pikir adalah teman ‘korbannya’ itu tampak mengekor di belakang. Menepuk pundaknya dan mengucapkan beberapa patah kata yang tak mungkin Ji Seul bisa dengar karena jarak mereka.

***
Lu Han baru saja memberikan Baek Hyun sepotong kaos v-neck yang ada di lokernya. Pemberian seorang penggemar rahasia yang Lu Han dapatkan minggu lalu, beruntung karena pria itu tidak membawanya ke rumah atau memberikan secara gratis pada mahasiswa kampus yang lain. Biasanya Lu Han gemar melakukan hal itu.

Mungkin tampaknya Lu Han menyadari sesuatu seperti apa yang sedang Baek Hyun alami akan terjadi suatu saat nanti.

Lu Han adalah seorang yang cukup terkenal di kalangan mahasiswa, dengan wajahnya yang tampan dan kepribadiannya yang baik. Ditambah lagi ia adalah seorang kapten basket, nyaris sempurna? Mungkin.

Lu Han mengirim gesture kalau ia akan langsung ke kelas dengan gerakan tangannya. Baek Hyun mengangguk dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

Di depan kaca besar yang tertempel di tembok Baek Hyun mematut dirinya. Tumpahan jus di kaos putihnya sangat tidak cocok dengan penampilannya. Setidaknya itu yang ia pikirkan.

Beruntung karena Lu Han dan Baek Hyun memiliki ukuran tubuh yang hampir sama, ia bisa mengganti kaosnya dengan sesuatu yang lebih pantas.

Sekarang Baek Hyun baru menyesalinya, ketika penggemar rahasia pria itu—ia sama populernya dengan Lu Han, memberikan sesuatu seperti sepotong kaos. Baek Hyun biasanya akan memberikannya secara random kepada orang, entah pria itu mengenalnya atau tidak. Ia hanya ingin membuang sesuatu yang terlalu banyak mengambil tempat di lokernya.

Seperti sepotong coklat, atau berlembar-lembar surat yang pastinya tidak biasa. Lebih mirip seperti sebuah puisi atau syair barangkali. Kenyataannya Baek Hyun terlalu populer.

Sekarang pria itu baru saja menghabiskan beberapa menit untuk berganti pakaian di dalam kamar mandi. Menggantinya dengan sesuatu yang terlihat bersih. Kaos V-neck milik Lu Han kini sudah melekat di tubuh pria itu.

Tidak seperti kaos putih polosnya yang terkena tumpahan jus.

Ia tidak tahu kenapa ia harus mendapatkan hal buruk seperti ini. Terkena tumpahan jus miliknya sendiri yang bahkan belum sempat masuk ke dalam tenggorokannya.

Ia menggenggam kaos kotornya yang sempat ia pakai tadi di tangan kanan. Jari-jari lentik pria itu bergerak memainkan surai hitam kecoklatan miliknya, mencoba membuat penampilannya terlihat lebih baik.

Ia kemudian memutar kenop pintu dan keluar dari dalam kamar mandi, setelah merasa urusannya telah selesai.

Sebelumnya ia berpikir akan langsung menuju ke kelas, bertemu dengan Lu Han dan juga guru Jeon untuk kelas musiknya. Tetapi seseorang yang sedikit lebih tinggi darinya, berdiri di hadapan pria itu.

Awalnya Baek Hyun berpikir mungkin orang itu ingin menggunakan kamar mandi, tetapi ia terlihat menjatuhkan pandangannya ke arah Baek Hyun. Membuat pria itu balik menatap ke arahnya.

“Huh?” Ia menaikkan alis, tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu.

“Soal insiden tumpahan jus di kantin,” ia memberi jeda.

Baek Hyun dibuat semakin bingung dengan perkataan pria di hadapannya itu. Ditambah lagi dengan ucapan pria itu yang terpotong.

Ia kembali teringat tentang kejadian beberapa menit yang lalu di kantin. Saat ia baru saja memberi segelas jus dan hendak menghilangkan rasa haus, tapi seorang gadis menabraknya.

Baek Hyun bahkan tak habis pikir kenapa gadis itu bisa melakukan hal itu. Oh mungkin orang-orang melihat itu sebagai sebuah insiden kecil, tapi tidak dengan Baek Hyun. Ia terlihat seperti sedang dipermalukan.

Rasanya Baek Hyun ingin berteriak dan mengumpat di hadapannya, tetapi itu mungkin akan terlihat buruk. Akhirnya, dengan wajah dipaksakan ia hanya melempar senyum kecil dan keluar kantin tanpa sepatah kata.

“Aku minta maaf.”

Baek Hyun terkejut. Masih membekas dalam ingatannya kalau yang menabraknya adalah seorang gadis bercelana jeans dengan sepatu kets dan kaos putih. Atau kemungkinan lain pria ini adalah pelaku utamanya?

Sepertinya Baek Hyun berpikir terlalu banyak.

“Kau yang menumpahkan jusnya?” Ia hanya ingin memastikan, mungkin saja pria dengan telinga besar di depannya itu salah orang.

“Ji Seul yang melakukannya, adikku.”

Baek Hyun menahan napas, pria ini adalah kakak dari gadis yang mengacaukan harinya. Sekarang ia datang melontarkan permintaan maaf untuk kesalahan yang tidak ia perbuat. Tidak berguna.

Gadis itu bahkan belum sempat mengucapkan sebuah kata maaf pun  pada Baek Hyun—kata refleks tidak termasuk dan kini pria yang mengaku sebagai kakak gadis itu datang, sulit untuk ditebak.

“Kau datang sebagai perwakilan gadis itu? Dia bahkan belum mengucapkan itu dari mulutnya sendiri.”

Chan Yeol hanya diam.

“Berhenti mengucapkan kata yang tidak seharusnya kau katakan.”

Baek Hyun pergi setelah mengatakannya. Ia bahkan tak melirik atau memberikan tatapan apapun pada pria itu. Tidak juga berniat untuk berdiri berlama-lama dengan seseorang yang mempunyai kaitan dengan gsdis itu.

Apalagi menghabiskan waktu barang beberapa detik untuk membaca ekspresi apa yang akan muncul setelah Baek Hyun berucap. Ia hanya ingin pergi sekarang juga.

***

Matahari sudah terbenam di ujung barat, meninggalkan jejak di langit yang berwarna oranye. Ji Seul menutup jendela kamarnya, udara sore mungkin terasa cukup dingin. Ditemani dengan secangkir teh panas yang baru saja ia dapatkan sehabis mandi, gadis itu kemudian duduk di samping jendela kamarnya.

Soo Yeon, sahabat gadis itu baru saja pergi beberapa menit yang lalu—sebelum Ji Seul pergi membersihkan dirinya. Soo Yeon memutuskan untuk mengikuti Ji Seul ke rumahnya karena gadis itu yang mengajakknya—atau mungkin dengan sedikit paksaan.

Sehabis Ji Seul menunggu kelas musik yang dihadiri Soo Yeon selesai, gadis itu langsung mengait tangannya dan menyeret gadis itu ke rumahnya. Soo Yeon sebenarnya belum menjawab ajakan gadis itu, tapi ia terlihat tidak punya pilihan lain. Gadis itu akan tetap memaksa.

Mereka membicarakan beberapa hal, sama seperti gadis lainnya yang suka sekali menggosipi sesuatu yang terdengar tidak begitu penting. Tapi topik mereka kali ini adalah sesuatu yang berbeda.

Membicarakan tentang seorang pria berkaos putih yang Ji Seul pikir menggunakan eyeliner di matanya. Tepat, pria yang sempat terlibat insiden kecil dengan gadis itu.

“Seharusnya aku lebih berhati-hati.” Ji Seul menggumam.

Itu memang pertama kalinya bagi Ji Seul melakukan hal seperti itu. Menabrak seorang pria dan buruknya membuat kaosnya terkena tumpahan jus. Ditambah lagi dengan fakta lain kalau banyak orang yang memperhatikan mereka. Gadis itu rasa seperti wajahnya menghilang dari kepalanya—ia merasa malu.

Itu semua tidak akan terjadi jika saja Park Chan Yeol tidak datang dan berniat menghampir gadis itu dan Soo Yeon. Mungkin semua itu tidak akan terjadi, tidak membuat gadis itu merasa beban hidupnya bertambah.

Walaupun sebenarnya ia tidak punya banyak masalah yang berarti.

Ji Seul bahkan juga menyesalinya, ketika ia tidak sempat mengatakan kata-kata maaf pada pria itu. Atau lebih tepatnya pria itu tidak mendengar ucapannya yang terlalu kecil.

Ji Seul merasa meja kecil di hadapannya itu bergetar, membuat Ji Seul melemparkan pandangannya ke arah handphonenya yang berkedip-kedip.

Nama Soo Yeon tertera di handphonenya.

“Kau meninggalkan sesuatu?” Ji Seul bertanya.

Gadis itu melihat ke sekeliling kamarnya sambil menunggu balasan dari gadis itu, mungkin saja Ji Seul menemukan barang milik Soo Yeon.

“Tidak, hanya saja aku punya informasi. Mungkin kau ingin mendengarnya?”

Ji Seul menautkan alisnya.

“Apakah sesuatu tentang konser grup musik Jepang yang kau bicarakan tempo hari?”

“Tidak juga, tapi apa kau akan datang?”

Soo Yeon terdengar begitu bersemangat di seberang sana. Mugkin saja gadis itu benar-benar ingin melihat beberapa pria dari kelompoo grup musik Negeri Sakura itu.

“Sayangnya tidak.”

Soo Yeon menghembuskan nafas kecewa. “Kenapa?”

“Aku harus mengunjungi Paman Kim, pertemuan keluarga.”

“Gadis seperti dirimu memang tidak pernah menyenangkan.”

Ji Seul tahu kalau gadis yang sedang berbicara dengannya itu hanya bercanda. Soo Yeon tidak pernah seserius itu.

“Sejak kapan kau merajuk? Pria perpustakaan itu memang memberi pengaruh besar terhadapmu.”

Mereka sedang membicarakan tentang seorang pria penjaga perpustakaan kota. Berbaju kotak-kotak dengan kaca berbentuk lingkaran yang menghiasi wajah bulat miliknya, setidaknya itu yang terakhir kali Ji Seul lihat.

Cukup tampan.

Ji Seul tidak begitu mengingat dengan baik siapa nama laki-laki itu, ia hanya mengingat marga Kim sebagai nama depannya.

“Apa yang kau bicarakan? Aku baru beberapa kali bertemu dengannya.”

“Beberapa kali dalam satu hari maksudmu?”

Ji Seul terkikik.

“Tidak, lagipula aku tidak menginginkan pria seperti itu.”

“Sejak kapan kau menjadi seorang yang pemilih? Kupikir dia pria yang baik?”

Ji Seul mungkin saja akan terlihat sebagai biro jodoh jika nanti gadis itu tidak berhenti membicarakan tentang kedekatan mereka.

“Ji Seul please,”

Kini gadis itu tahu apa yang harus ia lakukan. Soo Yeon mulai terdengar sedikit kesal. Ia harus menyelesaikan kegiatannya menggoda Soo Yeon sekarang juga.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan?”

Seingat Ji Seul, Soo Yeon ingin mengatakan sesuatu padanya.

“Tentang seseorang yang baru kita bicarakan beberapa jam yang lalu.”

Ji Seul berpikir sejenak, mungkin pria yang baru ditabrak Ji Seul siang tadi.

“Kenapa?”

Soo Yeon belum menjawab setelah beberap detik Ji Seul menanyakannya. Mungkin ada gangguan telepon atau sesuatu yang lain.

“Ya!”

Ji Seul menyatukan alisnya. Bukannya mendengar suara Soo Yeon yang menjawab pertanyaannya, Ji Seul malah mendapatkan sebuah teriakan. Atau mungkin itu bukan untuknya, seseorang mungkin sedang mengganggu gadis itu.

“Soo Yeon?”

Gadis itu menuggu beberapa menit sebelum akhirnya Soo Yeon menjawab, walaupun dengan sedikit tergesa-gesa.

“Well, maafkan aku Ji Seul. Mungkin kita membicarakannya lain kali, anak itu datang. Ia akan mengacukan kamarku.”

Ji Seul mulai mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Soo Yeon sekarang.

“Uh, baiklah. Bersabarlah, Chang Min mungkin akan memarahimu jika kau melemparnya ke kolam lagi.”

Soo Yeon menghembuskan nafas berat.

“Jangan mencoba menebak rencanaku, baiklah sampai jumpa.”

Peep—sambungan telepon terputus.

Mereka sempat membicarakan tentang keponakan Soo Yeon tadi, seorang anak berumur enam tahun bernama Min Woo. Dia adalah anak dari Lee Chang Min—kakak laki-laki Soo Yeon.

Gadis itu sempat menceritakan beberapa kali tentang kenakalan Min Woo pada Ji Seul. Disaat anak itu mengacaukan kamarnya dan parahnya sempat merobek tugas milik Soo Yeon yang harus segera di berikan pada dekan kampus.

Soo Yeon melemparnya ke dalam kolam saat itu.

Ia benar-benar kesal dan jangan abaikan jika gadis itu sedang dalam mood yang tidak baik. Dia bisa saja melakukan hal-hal yang tidak terduga, atau mungkin sedikit ekstrim.

Min Woo baik-baik saja, mungkin sedikit tersedak air kolam yang mask ek kerongkongannya. Tapi gadis itu menyesali perbuatannya beberapa menit kemudian, Chang Min juga memarahinya. Dia bukanlah bibi yang baik.

Mengenai pria yang dibicarakan Soo Yeon, Ji Seul mungkin merasa cukup penasaran dengannya. Bukan apa, ia berencana ingin mengucapkan permintaan maaf padanya secara langsung. Ia masih merasa tidak enak hati. Sedikit.

Tapi Ji Seul bahkan tidak tahu sedikitpun tentang laki-laki itu, namanya pun tidak. Ji Seul pikir, entah itu karena dirinya yang kurang bergaul atau karena pria itu memang tidak pernah terlihat di kampus. Ia tidak tahu.

Ketukan pintu menyapa indra pendengaran gadis itu saat ia sedang memikirkan pria tanpa nama—sebutan Ji Seul untuknya. Membuyarkan lamunannya dan pandangan gadis itu yang sebelumnya tertuju ke bingkai jendela.

Angin sore dan secangkir teh mungkin membuat gadis itu melamun Atau mungkin gadis itu yang terlalu menikmati suasana.

Pelayan Song datang dengan pakaian khas maidnya, seperti biasa. Menutup pintu berbingkai putih dibelakangnya itu dan menimbulkan suara decitan kecil. Ji Seul beralih memandangnya.

“Mr dan Mrs Park sudah menunggumu Ms” ia menunduk kecil.

Ji Seul hanya mengangguk sebagai jawaban, mungkin ini sudah waktunya makan malam. Waktu untuk Ji Seul mengisi perutnya dengan beberapa sendok makanan lezat buatan koki. Ia bahkan sudah tidak sabar, tapi tetap bersikap seperti biasa.

Tidak ingin pelayan Song tahu bagaimana keadaanya. Ia berpikir itu memalukan.

Sampai setelah pelayan Song berjalan mendekat ke arahnya dan mengambil cangkir teh kosong milik Ji Seul, lantas meletakannya di atas nampan hitam yang ia bawa.

“Aku akan segera turun.”

Ji Seul berujar pelan.

Pelayan Song mengangguk sebagai jawaban sebelum akhirnya keluar dari kamar gadis itu. Meninggalkan Ji Seul yang mulai sibuk menyisir rambut di depan kaca dengan sikat rambut merahnya.

***

Langit sudah nampak menggelap sejak beberapa jam yang lalu. Lampu-lampu etalase toko yang ada di pinggir jalan menyala seiring dengan gelapnya malam. Segelintir orang nampak berjalan di atas trotoar jalan dan sebagian mulai memasuki toko-toko yang berjejer.

Banyak orang yang menghabiskan waktunya di salah satu kawasan elit Korea itu. Sekedar berjalan-jalan di atas trotoar atau membeli pakaian baru untuk mereka. Bahkan ketika suhu udara tidak begitu bersahabat dan cukup dingin, tak sedikit yang memilih untuk pergi. Untungnya cuaca bulan Agustus tidak seburuk cuaca bulan Desember.

Seorang pria tampak berjalan keluar dari toko roti yang cukup ramai dikunjungi oleh pengunjung. Dengan kaos biru langit ditambah dengan balutan jaket jeans ia keluar membawa sebuah kantung kertas. Mungkin ia memesan beberapa potong roti untuk ia makan nanti.

Ia berjalan dengan langkah cukup cepat dibandingkan dengan yang lain. Sesekali melihat ke arah handphonenya yang ada di tangan kiri pria itu. Menggerakan kaki-kakinya melewati orang-orang dan memasuki sebuah gedung yang masih berada dalam satu kawasan dengan toko roti yang ia kunjungi sebelumnya.

Mungkin karena alasan itu ia memilih untuk berjalan kaki, menggerakkan kedua kakinya ketimbang menyetir dan membawa mobil mewah ke arah kawasan elit itu. Seperti yang orang kebanyakan lakukan.

Gedung yang baru saja pria itu masuki adalah sebuah gedung tinggi dengan 18 lantai. Ia masuk dengan bungkusan roti di tangannya, menuju lantai teratas gedung itu menggunakan lift.

“Kau membelinya?”

Seorang pria lain yang duduk di atas sofa berbahan kulit bertanya setelah pria tadi baru saja masuk ke salah satu ruangan di lantai teratas gedung itu.

“Tentu saja” jawabanya datar, mengangkat sedikit sebuah kantung kertas yang ia bawa dari toko roti.

Pria itu kemudian melangkah, mengambil tempat untuk duduk di samping temannya. Menyenderkan sedikit bahunya yang terasa pegal di bahu sofa.

“Dimana Se Hun?”

Ia menyadari kalau hanya ia dan laki-laki yang ada di sebelahnya itu di ruangan ini, setelah ia melihat sekeliling ruangan yang cukup besar itu. Dipenuhi dengan banyak furniture dengan warna hitam dan putih, terkesan modern. Pemiliknya memang menyukai ruangan sejenis itu, modern dan terlihat simple.

“Seharusnya kau tahu dimana sekarang ia Baek.” Jawab yang lain malas.

Mencoba mengambil sepotong roti yang di bawa Baek Hyun di dalam kantung kertas dengan tangan kanannya.

“Tidakkah ia punya kegiatan lain?”

“Kupikir ia sedang menari? Aku juga baru sampai disini” ia membalas dengan wajah yang datar.

Baek Hyun mendengus, ia memang tahu benar bagaimana seorang Se Hun. Menghabiskan waktunya untuk menari dan bahkan ia membuat sebuah ruangan khusus untuk dirinya berlatih di kantor ayahnya ini.

Karena mungkin pria itu tahu, ia akan banyak menghabiskan hari-harinya di tempat—yang cukup membosankan ini. Mengecek berkas-berkas yang diberikan sekertaris atau menandatangani beberapa kertas penting. Ia adalah pewarisnya dan itu adalah kewajibannya.

“Bagaimana jika Paman Oh datang? Bukannya menemukan Se Hun ia malah menemukan kita disini.”

Pria di sebelah Baek Hyun berhenti mengunyah roti yang sejak tadi ia makan. Menatap ke arah Baek Hyun dan berkata,

“Apakah Paman Oh galak? Maksudku, ia tidak langsung meledak jika menemukan kita disini kan? Tanpa Se Hun.”

Baek Hyun menahan napas. Sedikit merasa lucu dengan tingkah temannya itu. “Aku tidak merasa yakin, tapi siapa tahu?”

Ia benar-benar berhenti mengunyah dan nenelan sisa rotinya yang masih berada di dalam mulut. Ekspresinya bahkan sedikit berubah setelah Baek Hyun menajawab pertanyaanya.

“Bagaimana jika kita menyusul Se Hun ke ruangannya?”

Baek Hyun benar-benar ingin tertawa sekarang. Ia pikir temannya ini terlalu berlebihan, paman Oh bukanlah seorang yang begitu mengerikan—setidaknya itu yang Baek Hyun pikirkan.

“Lebih baik begitu.” Baek Hyun mebgherdikkan bahunya dan mulai bangkit.

Suho—pria yang duduk di samping Baek Hyun juga ikut berdiri. Ia memang tidak pernah bertemu secara langsung dengan paman Oh sebelumnya, mungkin itu yang membuatnya merasa takut.

Mereka berdua keluar dari ruangan milik Se Hun yang penuh dengan berkas-berkas yang memenuhi meja miliknya. Sepertinya Se Hun meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya harus segera diselesaikan itu.

Mereka merajut langkah mendekati sebuah ruangan yang terletak di ujung, cukup jauh dari tempat sebelumnya mereka berada. Baek Hyun berhenti, di depan sebuah pintu bercat putih.

Suho yang sebelumnya mengekor di belakang Baek Hyun juga menghentikan langkahnya. Sejujurnya, pria itu belum pernah menginjakkan kaki disini—di ruangan dimana Se Hun sering kali berlatih.

Ia baru tiba di Korea, mungkin setelah selama satu tahun ia menghabiskan waktunya di Jepang. Membantu perusahaan ayahnya yang memiliki cabang di Negri Sakura itu.

Sedangkan gedung yang sekarang sedang ia pijaki baru enam bulan berdiri, Suho belum pernah mengunjunginya.

Baek Hyun memutar kenop, kemudian sedikit memberikan dorongan pada daun pintu hingga terbuka. Hal yang pertama kali ia dengar adalah alunan musik dance yang cukup keras.

Mungkin Se Hun sedang dalam sesi berlatihnya.

Tanpa ragu Baek Hyun masuk ke dalam ruangan yang cukup bising itu, masih dengan Suho yang mengekor dengan sisa roti di tangannya. Ia benar-benar tidak bisa meninggalkan roti favoritnya itu sendirian.

“Beruntung bukan paman Oh yang muncul,” Seorang pria yang lain berkata. “Aku benar-benar ketakutan tadi.”

Baek Hyun tidak membalas, hanya melempar senyum aneh dan memilih duduk di atas kursi kayu yang ada di pojok ruangan.

Baek Hyun memperhatikan seluruh gerakan tubuh Se Hun, terlihat seirama dengan musik dance yang terputar di ruangan penuh kaca itu. Se Hun benar-benar fokus dengan gerakannya, ia memastikan semuanya harus berjalan dengan baik dan berakhir sempurna.

Ia tidak suka kesalahan.

“Ayahku tidak akan datang,” Se Hun berucap. “Ia sedang pergi ke luar kota, urusan bisnisnya.”

Ia berhenti menggerakan tubuhnya seiring dengan berhentinya musik yang di putar di handphone milik pria itu. Sedikit terengah-engah sebelum akhirnya duduk di atas sofa dan mencoba menetralkan napas. Ia sudah menari selama satu setengah jam.

“Dan kau membiarkan aku ketakutan, berpikir bahwa ayahmu akan datang?” Pria di samping Baek Hyun berkata dengan wajah sarkastiknya. Mungkin sedikit kesal dengan tingkah Se Hun.

“Jangan berlebihan Han, setidaknya paman Oh tidak akan memenggal kepalamu.” Baek Hyun berbisik.

Pria tadi adalah Lu Han, dengan sweater maroon dan skinny jeans yang ia pakai malam ini. Menyesuaikan dengan suhu kota Seouk yang cukup dingin, ia perlu membuat tubuhnya merasa hangat.

“Bagaimana jika ia akan?”

Se Hun nendengus, sebenarnya apa yang Lu Han bicarakan? Ia terdengar takut sekali dengan ayah Se Hun. “Otakmu sedikit tergeser?”

Lu Han menggeleng cepat.

Ia merasa ia masih baik-baik saja.

“Terkena efek gadis Kanada yang menolakmu?” Suho berucap kecil, tidak juga. Cukup keras untuk di dengar oleh Se Hun dan Baek Hyun.

“Apa?” Baek Hyun menaikkan suaranya.

Well, ini mungkin pertama kalinya dalam hidup Baek Hyun mendengar jika Lu Han ditolak seorang gadis. Maksudku, seorang Lu Han. Pria yang biasa dielu-elukan dan dipuja para gadis baru saja ditolak oleh gadis incarannya?

Mungkin Lu Han terlalu percaya dengan dirinya, berpikir semua akan berakhir seperti dugaan pria itu.

“Suho!” Lu Han terdengar hampir berteriak. Kesal.

“Huh, gadis mana yang berani menolakmu Lu?” Se Hun menyunggingkan senyumnya, sedikit mengejek.

Baek Hyun menahan tawa ketika ia bisa melihat dengan jelas wajah Lu Han yang sedikit memerah. Menahan emosinya yang mungkin sudah di atas kepala, tapi tentu saja. Lu Han tidak akan melakukan hal yang lebih.

Pria bersweater maroon itu menggerakan bibirnya, menggumamkan beberapa patah kata yang bisa di dengar oleh ketiga pria lainnya. Buruknya, mereka tidak mengerti sama sekali.

He is speaking in Chinese now.

“Sial. Berhenti, kau pikir aku mengerti apa yang kau katakan?” Suho mengumpat dari tempatnya.

Belum ingin berhenti sampai Lu Han berucap dalam bahasa Korea lagi.

“Kau tidak sedang mengucapkan sesuatu yang aneh ‘kan?” Baek Hyun mengangkat alisnya. Sejujurnya ia merasa sedikit takut, Lu Han terlihat serius saat mengatakannya.

Pria itu—Lu Han menjawab ucapan Baek Hyun dengan ekspresi bingungnya. Sedikit menggerakan dahi, membuat alisnya terangkat ke atas.

“Tidak sedang mengutuk kami dengan kata-kata itu?” Ia berucap pelan.

Suasana memang terasa sedikit aneh, Lu Han belum ingin berhenti mengucapkan beberapa patah kata dalam Chinese.

Se Hun mulai merasakan keanehan, tapi ia lebih memilih untuk berkonsentrasi dengan musik yang berasal dari earphonenya. Mencoba berpikir sedikit postif, walaupun mungkin terasa sulit.

Mendengarkan musik terasa lebih baik.

“Gadis itu akan menyesali perbuatannya.”

Suho berhenti mengumpat, Lu Han berbicara dalam bahasa normal lagi.

“Lain kali aku akan mengikuti kursus, setidaknya aku mungkin akan mengerti dengan apa yang kau katakan.”

Lu Han mengangkat bahu, tidak perduli. Lagipula itu baik untuk Suho, ia bisa belajar kebudayan dari negara lain.

“Kau mungkin tadi sempat mengataiku dalam bahasa asing itu,” Suho melemparkan tatapan matanya, sinis.

Oke, mungkin diantara mereka bertiga Suholah yang terdengar paling sensi dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Lu Han. Baek Hyun dan Se Hun terlihat baik-baik saja walaupun sedikit merasa aneh di awal.

Suho memang tidak suka sesuatu disembunyikan darinya. Ia ingin tahu segalanya.

“Tidak.” Lu Han berucap datar. Wajahnya sedikit kesal. “Aku hanya bernyanyi, maksudku mengucapkan beberapa lirik lagu.”

“Menurutmu aku akan percaya?”

Lu Han berhenti dengan kegiatannya—berjalan ke arah keyboard putih yang ada di pojok ruangan. Suhi benar-benar sedikit membuatnya sedikit merasa kesal.

“Oh well, aku mengumpat tentang gadis Kanada yang menolakku langsung di koridor tadi pagi.” Lu Han menarik napas. “Sial, ia mengatakannya di depan teman wanitanya dan mungkin juga beberapa orang menguping pembicaraan kami. Bodoh, tidakkah ia merasa sedikit prihatin padaku?”

Baek Hyun rasanya ingin tertawa.

Se Hun terlihat menahan napas dan menyembunyikan senyumnya. Jika Lu Han melihat, laki-laki itu mungkin saja akan berhenti bercerita. Merasa konyol.

“Ia bahkan memberi senyum mengejeknya di akhir kalimat. Hell. Ia pikir ia sudah merasa hebat? Gadis itu sepertinya ingin diberikan pelajaran.” Lu Han rasanya ingin memukul seseorang.

“Buruknya Kim Kai, pria dengan kulit tan palsunya itu mendengar semuanya. Huh, mungkin saja ia akan menyebarkan lelucon konyol tentangku esok pagi.”

Baek Hyun melihatnya, ketika Lu Han mengacaukan rambutnya sendiri dengan jari tangan. Lu Han belum pernah terlihat seperti ini, mungkin karena ini pertama kali untuknya?  Ia terlihat sedikit kacau.

Mungkin pria itu takut jika Kai akan membocorkan hal itu nanti. Imagenya akan terlihat buruk.

“Berharap saja jika Jong In tidak melakukannya besok.” Baek Hyun menepuk pundak Lu Han. “Kupikir Kai bukan orang yang suka menggosip.”

“Terakhir kali, kudengar pria itu menyebarkan berita konyol tentang Seok Jin.” Se Hun angkat suara dan membuat Lu Han melirik ke arahnya.

“Apa?”

“Berhentilah berpikiran negative. Bisa saja Kai tidak sedang dalam mood untuk menyebarkan gosip besok.”

Lu Han menghembuskan nafas berat. Mungkin apa yang Suho katakan ada benarnya. Terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak membuatnya merasa pusing. Ia mengatur nafasnya dan mulai berpikir jika semuanya akan baik-baik saja.

“Bagaimana dengan gadis itu?” Se Hun melemparkan tatapannya pada Baek Hyun. Penuh tanda tanya.

“Oh ya!” Suho meninggikan suaranya. “Gadis dengan kaos putih yang menumpahkan jus ke arahmu?”

Baek Hyun mendengus. Ia pikir, ini bukan saatnya membicarakan gadis itu. Sejujurnya ia masih merasa kesal, gadis itu bahkan belum mengucapkan kata maaf—secara langsung padanya. Sesulit itukah?

“Yang membuat Baek Hyun meminjam kaos padaku untuk mengganti pakaiannya.” Lu Han menambahkan.

“Well, ia bahkan belum mengucapkan kata maaf.”

Se Hun mengangkat alisnya, sedikit tidak percaya.

“Apa menurut kalian gadis itu adalah salah satu penggemar Baek Hyun?” Suho menyimpulkan. Entah bagaimana pria itu bisa berpikir demikian tapi Baek Hyun hanya diam menanggapinya.

“Ia belum mengucapkan kata maaf,mungkin saja gadis itu akan meletakkan sebuah surat di loker Baek Hyun dan mengajaknya untuk makan malam sebagai bentuk permintaan maaf?”

Suho berhenti sejenak, memikirkan suatu hal yang terus berputar dalam otaknya.

“Lalu ia akan menculik Baek Hyun dan—”

“—Suho, kupikir kau terlalu banyak menonton drama.” Se Hun memotong penjelasan pria itu.

Merasa sangat cukup dan tidak ingin lagi mendengar penjelasan yang lain lagi. Suho terlalu berlebihan.

“Aku juga tidak tahu siapa gadis itu. Tapi tadi aku bertemu dengan kakak laki-lakinya.”

Baek Hyun bercerita, ketika ia menemukan Chan Yeol—kakak Ji Seul berdiri di depan toilet untuk menunggu Baek Hyun. Hanya untuk meminta maaf.

“Ia mengatakan maaf atas ulah adiknya? Aku juga tidak mengerti mengapa ia yang mengatakan itu.”

Yang lain mungkin juga berpikiran yang sama dengan Baek Hyun. Untuk apa kakak gadis itu yang melakukannya? Bukankah seharusnya gadis itu sendiri yang bertemu dengan Baek Hyun dan mengatakan kata maaf?

“Mungkin gadis itu merasa malu?” Lu Han menjawab asal.

Tapi mungkin jawaban yang sedikit logis. Karena ia merasa malu, ia meminta bantuan kakak laki-lakinya untuk mengucapkan kata maaf? Sedikit tidak sopan memang.

“Yang benar saja untuk apa ia harus merasa malu di depan Baek Hyun?” Se Hun merasa aneh. Ia mendengus.

“Kau tidak tahu? Baek Hyun mungkin terlalu ‘terang’ menurutnya, maksudku nyalinya mungkin menjadi ciut jika harus berhadapan dengan Baek Hyun secara langsung.”

Lu Han menjelaskan, tentang teori Baek Hyun yang begitu tersng dan nyali seorang gadis yang akan ciut jika berhadapan dengan Baek Hyun. Apa Lu Han baru saja menyamakan Baek Hyun dengan lampu neon atau semacannya?

Suho bergerak kecil di tempatnya. Merasa sedikit tertarik dengan topik yang saat ini sedang mereka bicarakan.

“Tapi apa kau tahu siapa namanya?” Ia bertanya.

Baek Hyun diam sejenak. Mencoba mengingat tentang perbincangan kecil antara dirinya dan pria jangkung yang ia temui siang tadi.

“Aku tidak yakin, tapi mungkin sesuatu berawalan Ji?”

TBC

lightsdeerⓒ2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s