Family · Friendship · Happy · School life

Paper Heart — 2nd Chapter {Bumped}

image

Paper Heart — 2nd Chapter

| Author | lighstdeer

| Tittle | Paper Heart

| Cast | Byun Baek Hyun; Park Ji Seul; Park Chan Yeol; Oh Se Hun; Xi Lu Han; Kim Kai; Lee Soo Yeon; Xi Lu Han

| Genre | Family, Friendship

| Rating | G

| Length | Chaptered {2811 words}

| Disclaimer | The story is pure mine. Don’t copy it without my permission {No plagiarism}. The cast are belong to god and  their parents.

Summary :

Ji Seul tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang akhir-akhir ini sering ia perhatikan akan menjadi seorang yang begitu penting dalam hidupnya. Ia pikir semuanya akan menjadi baik-baik saja, seperti apa yang yang ia harapkan.

Tapi tidak, nampaknya takdir kini sedang bermain-main dalam kehidupan gadis itu. Semuanya terasa menyedihkan tapi tidak ada yang mengerti perasaan Ji Seul. Ia terlalu baik dalam menyembunyikam perasaannya.

I try to act strong on the outside but my heart is like paper. I got a paper heart.

lightsdeer present

***

Seoul National University

08:45

Mercedes-Benz GLK-Class, mobil keluaran terbaru itu baru saja memasuki pelataran kampus. Chan Yeol mematikan mesin mobil miliknya sesaat setelah pria itu baru saja memakirkan mobil.

Ji Seul melepaskan sabuk pengaman yang sejak tadi ia gunakan. Membuka pintu mobil yang ada di sampingnya dan keluar dari dalam mobil.

Chan Yeol juga sudah turun dari mobilnya, berdiri tepat di samping Ji Seul sambil menyisir rambutnya asal dengan jari. Gadis itu tahu benar apa yang sedang dilakukan pria itu di sampingnya.

Beberapa gadis mulai terlihat mendekati mereka, melirik-lirik kecil ke arah Chan Yeol yang sibuk dengan kegiatannya. Kakak laki-lakinya itu suka sekali tebar pesona. Ji Seul bahkan tidak pernah berpikir, bagaiman seorang Park Chan Yeol bisa terlihat begitu menarik di mata mereka.

Gadis itu mendengus kecil, berlama-lama di samping Chan Yeol mungkin akan membuatnya pusing. Terlalu banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka kali ini, Ji Seul tidak menyukainya. Ia tidak pernah suka menjadi pusat perhatian.

Berbeda sekali dengan Park Chan Yeol.

Ia terbiasa atau mungkin menyukainya ketika ia menjadi pusat perhatian. Seolah dirinya adalah seorang aktor.

Ji Seul berniat pergi, memisahkan diri dari pria itu. Berlama-lama berdiri di sampingnya tidak terdengar bagus.

“Kau akan ke kelasmu?” Chan Yeol menghentikan langkah Ji Seul, gadis itu bahkan baru bergerak beberapa sentimeter dari tempat sebelumnya.

Ji Seul berbalik dan menatap Chan Yeol. “Tentu saja.”

Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu di lontarkan oleh pria itu. Terlihat jelas jika pria itu sudah tahu jawaban apa yang akan dijawab oleh Ji Seul. Lagi pula apa lagi yang akan gadis itu lakukan selain pergi ke kelas sekarang ini?

“Tidak biasa sekali kau datang dengan Ji Seul.” Gadis itu menolehkan kepalanya.

Pria lain kini sedang berdiri di samping Chan Yeol, sedikit berkacak pinggang dan Ji Seul pikir mereka sama saja. Terlalu berlebihan, melempar senyum ke arah gadis lain seolah mereka adalah seorang akor papan atas yang sedang naik daun.

Tidak, Ji Seul bukannya merasa jika ia merasa sedih karena pria berkulit tan itu tidak melempar senyum ke arahnya. Ji Seul bahkan pernah mendapatkan sesuatu yang lebih, sebuah smirk dan kedipan mata yang secara langsung ia dapatkan.

“Paman Lee sedang sakit dan aku terpaksa harus pergi dengannya.” Ji Seul menjawab dengan nada datar.

Tidak memperdulikan Chan Yeol yang sedikit kecewa mendengar kata ‘terpaksa’ dalam kalimat gadis itu kali ini.

“Huh? Tidakkah kau merasa senang jika Chan Yeol yang mengantarmu kali ini?”

Ji Seul memutarkan kedua bola matanya, membalikkan badan dan tidak berniat sama sekali menjawab pertanyaan laki-laki bernama Jong In itu.

Pria itu mungkin saja bisa melontarkan pertanyaan lain lagi jika Ji Seul menjawab yang satu itu. Jong In terlalu banyak tanya dan dia tidak suka itu. Well Ji Seul selalu menghindari orang-orang yang terlalu berisik seperti Jong In dan kakaknya.

“Terlalu banyak bergaul dengan Soo Yeon mungkin membuatnya seperti itu.” Chan Yeol menghembuskan nafas kecil.

Mengambil tasnya yang sempat ia tinggal di dalam mobil dan meletakkannya di bahu kanan pria itu.

Jong In membalas ucapan pria itu dengan melirik aneh ke arahnya. Pria berkulit tan itu juga sudah tahu benar jika Ji Seul sering bergaul dengan gadis bernama Lee Soo Yeon. Gadis itu memang dikenal sebagai seorang yang pendiam dan ia bahkan terlalu dingin.

“Yeah, mungkin mereka memang dilahirkan untuk hidup bersama. Tapi bukankah Ji Seul sudah seperti itu sejak ia kecil?” Jong In bertanya setelah mereka berbelok.

Banyak siswa yang sedang berlalu lalang di sekitar koridor. Saling bercengkrama dan mungkin melontarkan beberapa lelucon yang membuat mereka tertawa geli. Mereka terlihat begitu senang menghabiskan waktu bersama teman mereka sebelum kelas dimulai.

Chan Yeol sendiri bingung, ia hanya tahu Lee Soo Yeon sebagai satu-satunya teman gadis itu. Well, mungkin dulu gadis itu punya dua orang yang benar-benar dekat dengannya—selain Soo Yeon.
Tapi sesuatu yang menurut Chan Yeol buruk terjadi.

Mereka memisahkan diri.

Chan Yeol tidak tahu pasti apa sebabnya, Ji Seul tidak pernah bercerita tentang hal itu sedikitpun.

Kembali ke pertanyaan Jong In; Chan Yeol hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.

Jong In kemudian diam dan tidak bertanya lagi. Pria itu memilih berjalan lurus sambil sesekali bersiul kecil. Berjalan menuju kelas mereka yang terletak di ujung koridor.

Melewati beberapa murid yang berdiri di depan loker mereka dan sesekali melemparkan senyum ke arah Jong In dan Chan Yeol. Buruknya, salah satu dari mereka berdua bahkan tak menyadarinya. Chan Yeol terlalu sibuk melemparkan tatapannya lurus ke delan tanpa sekalipun melirik ke arah mereka—kerumunan gadis-gadis.

Mereka sibuk berbisik kecil sambil memasang senyum aneh di wajah. Setidaknya itu yang Chan Yeol pikirkan.

Sementara yang Jong In lakukan adalah melakukan gerakan-gerakan kecil yang membuat gadis di sekelilingnya sedikit menjerit. Tidak terlalu keras tetapi itu sedikit terdengar menggelikan. Jong In bahkan hanya menyisir rambutnya dengan jari, tidak ada pergerakan yang terlau ekstrim tapi gadis-gadis itu bersikap sedikit berlebihan.

Pelajaran Jung sseosangnim mungkin terdengar membosankan untuk mengawali kelas mereka hari ini. Jong In mendengus kecil mengingatnya.

***

11:52

Ketukan kecil di papan mengakhiri kelas mereka hari ini. Guru Ahn baru saja meninggalkan meja kecil yang ada di depan kelas. Melenggang pergi dengan kaca mata besar yang bertengger di hidungnya.

Ji Seul menutup buku yang sejak beberapa menit lalu terbuka. Menghembuskan nafas kecil sebelum menempelkan pipi bagian kanannya di atas meja.

Beberapa jam lalu memang cukup melelahkan untuknya.

Duduk dengan tenang di atas kursi sambil memperhatikan apa yang Ahn sseosangnim ucapkan selama waktu yang terbilang cukup lama. Ditambah lagi dengan tatapan mata wanita itu yang seolah menusuk kulitnya ketika gadis itu melakukan pergerakan kecil.

Masih teringat dengan jelas dalam ingatan Ji Seul, ketika seorang Kim Min Ah dikeluarkan dari dalam kelas karena ia sibuk mengobrol saat jam pelajarannya.

Bonus lain yang gadis itu dapatkan, ia bahkan harus berdiri beberapa menit di depan Guru Ahn sembari mendengarkan perkataan yang membuat telinganya panas.

Soo Yeon yang duduk di samping Ji Seul menutup buku catatannya. Gadis itu baru saja selesai mencatat apa yang Guru Ahn tulis di papan. Itu sedikit banyak jadi Soo Yeon membutuhkan waktu, ditambah lagi ia terbilang cukup lama dalam menulis.

“Sepertinya ada yang membuatnya kesal hari ini.” Soo Yeon menebak.

Mereka berdua terlihat seperti korban kekesalan Ahn sseosangnim secara tidak langsung.

Ji Seul menggerakan kepalanya, memberi gesture kalau ia menyetujui apa yang baru saja di lontarkan oleh Soo Yeon.

“Siapapun dia, sepertinya orang itu benar-benar mengesalkan.” Ji Seul berkomentar, kembali berputar dalam otaknya bagaimana tatapan tajam guru mereka itu.

Soo Yeon hanya merespon dengan kekehan kecil. Ia masih sibuk memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas hitam milik gadis itu. Memastikan kalau tidak ada satu pun yang tertinggal di atas meja.

“Kau tidak merasa lapar?”

Ji Seul melirik Soo Yeon, apa gadis itu baru saja mengajak Ji Seul untuk pergi ke kantin kampus dan membeli beberapa bungkus snack?  Ia memang merasa sedikit lapar.

“Sedikit.” Ji Seul menjawab.

Lalu gadis itu mengangkat kepalanya dan mulai mengepak barang-barangnya yang berserakan di atas meja ke dalam tas. Seperti yang Soo Yeon lakukan.

“Sedikit bukan sebuah jawaban yang terdengar menyenangkan.” Soo Yeon menatap gadis itu, dengan wajah datarnya.

Ji Seul berhenti sejenak. Melemparkan wajah kesalnya ke arah Soo Yeon. “Baiklah. Aku sangat lapar sekarang.”

“Jawaban yang bagus.” Soo Yeon bangkit berdiri.

Gadis itu meletakkan tasnya di bahu kanan gadis itu dan berdiri di depan meja milik Ji Seul. Mereka harus segera meninggalkan kelas dan pergi mendekati kantin untuk mengisi perut kosong mereka.

Pelajaran guru Ahn benar-benar menguras energi.

“Sepertinya kau bersemangat sekali hari ini.” Ji Seul mencibir.

Saat ini mereka sedang menuju kantin setelah memastikan tidak ada barang mereka yang tertinggal. Berjalan melewati koridor panjang sebelum mencapai kantin yang terletak di belakang kampus.

Soo Yeon menggeleng. Ia tidak merasa kalau dirinya begitu bersemangat hari ini. Menurutnya ia bersikap biasa saja, sama seperti hari-hari sebelumnya.

Ji Seul menyerah. Berdebat dengan gadis bermarga Lee disebelahnya itu bukan suatu pilihan yang baik. Ia tahu benar, mereka mungkin akan berakhir dengan sebuah perang kecil jika tetap kekeuh dengan argumennya.

Soo Yeon adalah tipikal gadis yang tidak mau mengalah.

Sisa waktu mereka habiskan dengan keheningan saat berjalan ke arah kantin kampus. Ji Seul sibuk menjejalkan matanya ke sepanjang koridor, melihat ke sekeliling yang dipenuhi oleh orang-orang. Sedangkan Soo Yeon sedang sibuk dengan handphone miliknya, Ji Seul pikir gadis itu kini sedang membalas pesan dari seseorang.

Ji Seul juga tidak ingin terlalu tahu siapa yang mengiriminya pesan. Jika gadis itu mau, ia akan menceritakannya pada Ji Seul langsung. Bahkan tanpa Ji Seul minta.

Kaki mereka kini sudah memasuki kawasan kantin, Soo Yeon berjalan di depan Ji Seul dan berniat untuk menentukan dimana tempat yang bagus untuk mereka duduki.

Mereka berdua sedang berjalan ke arah pojok, Ji Seul dapat melihat kalau ada sebuah tempat kosong disana.

Ji Seul mungkin menyadari jika beberapa pasang mata sedang menjatuhkan pandangannya ke arah mereka berdua. Dua orang gadis yang bahkan terlalu jarang untuk menginjakkan kaki di areal kantin.

Well, mereka berdua sedikit terkenal di kalangan mahasiswa.

Ji Seul karena keluarganya dan kepiawaiannya bermain piano, ditambah lagi dengan kakak laki-lakinya yang cukup terkenal dan dipuja banyak gadis. Juga dengan Soo Yeon yang pintar dan pandai menyanyi.

“Tidakkah ada objek lain yang lebih bagus untuk mereka perhatikan?” Ji Seul berkomentar dengan suara kecil.

Mereka kini tengah duduk di atas kursi yang ada di bagian pojok kantin. Merasa sedikit beruntung karena mereka masih bisa mendapatkan tempat kosong di jam ramai seperti ini.

Biasanya mereka hanya akan membeli beberapa bungkus cemilan dan akan menghabiskannya sembari mengobrol di halaman kampus. Tidak ada tempat kosong yang tersisa.

“Kitalah objek bagus bagi mereka.” Soo Yeon merogoh dompet yang ada di dalam tasnya.

Memberikan beberapa lembar uang ke arah Ji Hyun dengan menggesernya di atas meja. “Aku yang bayar kali ini.”

Terlihat sekali kalau gadis itu sedang tidak ingin berbasa-basi dan ingin segera meninggalkan kantin. Tidak suka menjadi pusat perhatian orang-orang.

“Jadi, apa menu makan siang kita kali ini?” Ji Seul bertanya, menatap lurus ke arah gadis di depannya yang terlihat sedang berpikir.

“Dua piring spaghetti tidak terdengar buruk.” Jawabnya.

Ji Seul mengangguk, ia bangkit dan berjalan menuju deretan tempat penjual makanan. Soo Yeon membayar dan Ji Seul akan mengantri untuk makan siang mereka. Atau jika Ji Seul yang membayar, Soo Yeon yang akan mengantri.

Ji Seul kini sedang menunggu pesanannya. Well, mungkin beberapa menit lagi dua piring itu akan berada di atas nampannya. Ditemani dengan dua buah gelas lemon tea kedengarannya sedikit sempurna.

Gadis itu membalikkan tubuhnya, sedikit penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Soo Yeon di belakang sana. Biasanya gadis itu akan menyibukkan diri dengan benda pipih kesayangannya itu.

Handphone selalu saja menjadi pilihan jika gadis itu sedang sendirian. Ia tidak terlalu suka menatap ke sekelilingnya.

Tapi kini Ji Seul melihat sesuatu yang bisa dikatakan jarang terjadi. Jong In terlihat sedang menghampiri gadis itu dan duduk di tempat milik Ji Seul. Gadis itu bertanya-tanya apa yang sedang Jong In lakukan.

Biasanya Ji Seul akan menemukan pria itu menghabiskan waktu dengan Chan Yeol atau bahkan menggoda gadis-gadis di sepanjang koridor. Hampir setiap waktu Ji Seul selalu melihat Jong In dan itu membuatnya merasa bosan.

Mungkin Soo Yeon adalah sasaran Jong In untuk siang ini. Menggoda seorang Lee Soo Yeon adalah suatu yang mustahil.

Jangan harap jika gadis itu akan membalas semua lelucon atau godaan dari orang lain. Gadis itu bahkan tidak merespon sedikitpun. Tidak seperti gadis lain yang terlihat begitu tersipu dan menundukkan wajah ketika seorang pria menggodanya.

Jong In membuat gadis itu terpaksa melepas perhatian pada handphone dan menghabiskan waktu mendengar ocehan tidak penting yang keluar dari bibir tebal pria itu.

Soo Yeon bahkan terlihat sedang memasang wajah dinginnya. Gadis itu seolah terusik dengan kehadiran Jong In yang membuat moodnya menjadi buruk.

Beberapa detik kemudian Jong In terlihat bangkit dan meninggalkan Soo Yeon yang duduk di pojok kantin. Gadis itu melanjutkan aktivitasnya sedari tadi dan bahkan tidak menghiraukan wajah milik Jong In yang terlihat datar karenanya.

Entah Jong In yang merasa tindakannya sama sekali tidak berpengaruh pada Soo Yeon atau mungkin karena gadis itu sudah mengusirnya secara halus. Membuat Jong In pergi tanpa mendapatkan respon yang baik dari Soo Yeon.

Sebuah wajah dingin dan terlihat tidak menyukai kehadirannya membuat Jong In pergi.

Tepat setelah itu, Ji Seul mendapatkan makanan mereka dan berjalan ke arah Soo Yeon dengan memegang nampan di kedua tangannya.

“Apa yang Jong In lakukan?” Ji Seul langsung saja bertanya begitu ia selesai menyeruput sedikit lemon tea pesanannya.

“Kai?” Ji Seul mengangguk.

Gadis itu tidak terbiasa memanggil Jong In dengan sebutan Kai—seperti yang Soo Yeon katakan. Memanggil pria itu dengan sebutan Kai terlihat terlalu bagus untuknya.

Salahkan saja para gadis yang memuja Jong In dan memberinya nickname yang terdengar begitu keren.

“Mengoceh sesuatu yang tidak penting.” Soo Yeon menjawab dengan nada datarnya. Tidak begitu tertarik membahas tentang pria itu.

“Kutebak, ia menggodamu lagi?”

Soo Yeon mengangguk. “Apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia bahkan mahasiswa semester akhir. Terlalu banyak berkeliaran mempengaruhi nilainya.”

Ji Seul terkekeh kecil. Gadis itu bahkan hampir saja tersedak mengingat ia sedang menelan makananya saat mendengar hal itu.

“Kau berkata seolah Jong In tidak punya kegiatan lain selain menggodamu dan berkeliaran.”

Soo Yeon terdengar mendengus kecil, ia tidak bermaksud sama sekali. Ji Seul salah menangkap arti dari perkataannya.

“Tidak hanya aku.” Soo Yeon memasang wajah datar. “Gadis lain mungkin juga sudah menjadi korbannya.”

Ji Seul mengangguk dan terkikik kecil. Perkataan Soo Yeon memang benar, tidak bisa dihitung dengan jari berapa banyak gadis yang sudah didekati Jong In.

Beruntung karena Ji Seul bukan salah satu dari mereka. Dia adik Park Chan Yeol.

“Benar. Buruknya ia terlalu sering menggodamu. Dibanding dengan gadis lainnya.” Ji Seul hanya bercanda.

Well, tidak juga.

Jong In memang terlalu sering menggoda sahabatnya itu. Ji Seul juga tidak tahu alasan apa mengapa Jong In melakukan hal itu. Tapi Ji Seul akui akhir-akhir ini Jong In tidak begitu sering mendekati Soo Yeon dibanding bulan sebelumnya.

Mungkin ia menyerah. Selalu mendapatkan penolakan dari gadis itu.

“Kalau kau ingat, Kai selalu bergaul dengan Shin Ji Min.”

Soo Yeon mengingatkan Ji Hyun, memberi pengetahuan lain kalau dirinya bukanlah satu-satunya gadis yang sering digoda oleh Jong In. Atau mungkin begitu dekat dengan pria itu.

Gadis itu bahkan tidak mendapatkan keuntungan apapun jika Jong In mendekatinya. Duduk dihadapan gadis itu atau sesekali mendapatkan senyum dari pria itu, bukan sesuatu yang begitu ia inginkan.

Ia malah mendapatkan pandangan mata dari banyak orang, Jong In cukup terkenal. Dekat dengan pria itu berarti Soo Yeon akan menjadi pusat perhatian dan ia sama sekali tak menyukainya.

Belum lagi dengan masalah gadis yang menyukai Jong In, Soo Yeon mungkin akan dibenci jika ia terlalu dekat dengan pria itu. Ia tidak mau mencari masalah dengan siapapun.

“Dia hanya sahabat Jong In. Setidaknya itu yang kudengar.”

Ji Seul sempat mendengar desas-desus tentang seorang gadis yang selalu dekat dengan Jong In. Tapi sejauh yang Ji Seul tahu gadis itu—Shin Ji Min hanyalah teman dekat Jong In sejak kecil.

Kedua orang tua mereka sudah sangat lengket seperti permen karet, mungkin itu sebabnya.

Well, aku tidak perduli.” Soo Yeon mengangkat bahunya.

“Huh? Terlihat kalau kau sedikit cemburu.” Ji Seul menatap Soo Yeon dengan mata yang sedikit disipitkan.

Seolah-olah ia sedang menginterogasi Soo Yeon sekarang.

“Tidak sama sekali.” Soo Yeon, gadis itu menjawab pernyataan Ji Seul dengan tatapan dinginnya.

Ji Seuk mengangguk, tidak ingin terlalu lama lagi terjebak dalam sikap dingin yang kini di pasang Soo Yeon. Tampaknya gadis itu menganggapnya sebagai suatu yang begitu serius sekarang.

Soo Yeon meletakkan garpunya, menarik beberapa lembar tisu dan mengelap bibirnya dari saos tomat yang menempel di sudut bibir gadis itu. Ia sudah selesai dengan makan siangnya.

Ji Seul sedang menghabiskan segelas lemon tea kali ini. Tenggorokannya sedikit kering.

“Tampaknya Park Chan Yeol sedang melihat ke arahmu.” Soo Yeon sedikit berbisik.

Gadis itu sempat melihat ke sekeliling untuk beberapa detik dan ia menemukan kakak laki-laki Ji Seul itu sedang memperhatikannya dari ujung kantin.

Terlihat seperti ia sedang mendekatkan langkahnya ke arah meja mereka.

“Huh?” Ji Seul mengikuti arah pandang gadis yang ada di depannya itu.

Chan Yeol dengan kaos hitamnya terlihat sedang merajut langkah ke arah mereka. Buruknya, Kim Jong In juga ada di belakang pria itu.

Ji Seul merasa suasana kantin sedikit bertambah ramai, ia tidak pernah menyukai ini. Chan Yeol akan datang ke meja mereka dan berbasa-basi membicarakan hal-hal kecil. Tidak penting.

Ia akan menjadi pusat perhatian.

Sebagian mungkin akan mengatakan kalau Ji Seul adalah seorang gadis yang beruntung, atau mungkin ada juga yang menatapnya dengan tatapan kesal karena iri.

Ji Seul tidak menyukai yang satu itu.

Mereka menatap Ji Seul dengan tatapan yang sama sekali tidak gadis itu inginkan.

“Ayo pergi sebelum dia menangkap kita.” Usul Ji Seul.

Soo Yeon mengangguk, ia juga merasa tidak ada gunannya jika harus berlama-lama menghabiskan waktu di kantin. Perpustakaan jauh terdengar lebih baik.

Ji Seul bangkit dan menarik tasnya—sedikit terburu-buru. Ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Park Chan Yeol.

But, accidentally.

She bumped into someone.

Prang!

“Ah, kau—”

Sorry!

TBC

lightsdeerⓒ2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s