Family · Fanfiction · Happy

Paper Heart — 1st Chapter {Unusual Things}

image

Paper Heart — 1st Chapter

| Author | lighstdeer

| Tittle | Paper Heart

| Cast | Byun Baek Hyun; Park Ji Seul; Park Chan Yeol; Oh Se Hun; Xi Lu Han; Kim Kai; Lee Soo Yeon; Xi Lu Han

| Genre | Family, Friendship

| Rating | G

| Length | Chaptered {2451 words}

| Disclaimer | The story is pure mine. Don’t copy it without my permission {No plagiarism}. The cast are belong to god and  their parents.

Summary :

Ji Seul tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang akhir-akhir ini sering ia perhatikan akan menjadi seorang yang begitu penting dalam hidupnya. Ia pikir semuanya akan menjadi baik-baik saja, seperti apa yang yang ia harapkan.

Tapi tidak, nampaknya takdir kini sedang bermain-main dalam kehidupan gadis itu. Semuanya terasa menyedihkan tapi tidak ada yang mengerti perasaan Ji Seul. Ia terlalu baik dalam menyembunyikam perasaannya.

I try to act strong on the outside but my heart is like paper. I got a paper heart.

lightsdeer present

***

Seoul, South Korea.

06:43

Udara pagi masuk ke dalam sebuah kamar bercat putih polos yang ada di rumah luas itu. Jendela yang terbuka membuat tirai gorden yang menghiasi sisinya bergerak dan udara sejuk itu masuk ke dalam ruangan.

Pagi itu terasa begitu menenangkan. Dengan suara burung-burung yang bercicit dari tangkai pohon yang ada di sekeliling pekarangan. Udara pagi dan suara burung yang bercicit ditambah lagi dengan secangkir kopi panas di atas meja. Terlihat begitu sempurna.

Gadis itu keluar dari balik dinding dengan mengenakan sebuah balutan bathrob putih miliknya. Ia baru saja membersihkan diri dan berendam selama beberapa menit di dalam bathtub berisikan air hangat.

Duduk di sebuah kursi kayu yang tepat berada di samping jendela. Mata kecilnya menatap keluar, menjelajah seisi pekarangan yang dipenuhi oleh berbagai macam dan jenis bunga. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali dirinya menginjakan kaki di rerumputan hijau itu.

Rambut hitam panjangnya yang basah mulai ia keringkan dengan handuk kecil di tangan kanannya. Sedikit menggosok agar membuat rambutnya lebih cepat kering. Ia begitu gemar mencuci rambutnya di pagi hari seperti ini.

Ia membiarkan rambut basahnya tergerai, tetes demi tetes air mulai turun melewati wajah bulat gadis itu. Ia sibuk mengamati burung-burung yang berterbangan di langit dan kemudian hinggap di tangkai pohon atau kabel listrik yang melintang.

Tak punya waktu mengurusi rambutnya.

Terdengar ketukan kecil di pintu. Ketukan ketiga baru saja terdengar diikuti dengan suara decitan pintu yang terbuka. Gadis itu menoleh, persis ke arah sumber suara dan seorang wanita paruh baya tengah berdiri dengan beberapa potong pakaian di tangannya.

“Good morning Ms.” Wanita itu sedikit menunduk.

Langkah kaki wanita itu terdengar mendekat dan gadis di hadapannya masih memperhatikan setiap gerakan tubuhnya. Kemudian berhenti disamping tempat tidur-masih dengan beberapa potong pakaian yang ada di lengannya.

Gadis di samping jendela menghembuskan nafas kecil, sebelum menggerakkan kepalanya dan menatap ke luar jendela sekali lagi. “Bukankah sudah kukatakan untuk tidak memanggilku seperti itu lagi?”

Kalimat pertama yang di lontarkan gadis itu hari ini. Ia memperingatkan wanita paruh baya di hadapannya atau mungkin mengingatkan sekali lagi. Ia hanya merasa tidak nyaman, telinga dan otaknya menangkap itu seperti sesuatu hal yang aneh.

Wanita dengan pakian putih dan hitam seperti pakaian maid biasanya itu melempar senyum kecil. “Kubantu mengeringkan rambutmu?”

Gadis di samping jendela memalingkan wajahnya tersenyum dan kemudian mengangguk kecil. “Tapi aku belum meminum kopiku.”

Ia melirik kopi bercangkir putih yang ada di atas meja tepat di sebelahnya. Asap kopi mengepul kecil di udara. Tapi mungkin kopi itu sudah tidak sepanas sebelumnya, mungkin hangat. Mengingat cangkir itu disiapkan saat ia sedang membersihkan diri.

“Kau bisa meminumnya sekarang,” wania paruh baya itu mengambil langkah kecil lalu duduk di samping tempat tidur. “Sambil memilih baju apa yang akan kau kenakan?”

Gadis itu mengangguk kecil. Menggeser sedikit tubuhnya dan menghadap wanita paruh baya yang duduk di samping tempat tidur.

“Jadi apa yang akan kau kenakan hari ini?” Wanita itu mulai memilah baju yang sejak tadi ia bawa, menjejerkannya di atas tempat tidur sebelum melirik gadis itu.

Ji Seul-gadis itu, menautkan kedua alisnya. “Tidak seperti biasanya.” Ucapnya pelan kemudian menyesap kopinya sedikit.

Ji Seul benar, gadis itu terbiasa dengan pelayan Song yang selalu menyiapkan segala keperluan pakaiannya. Wanita paruh baya itu akan memilihkan pakaian mana yang akan Ji Seul pakai untuk pergi ke kampus.

“Mungkin saja kau punya pendapat lain.” Bibi Song memilih sebuah gaun terusan dengan panjang selutut. Warna putih polos adalah pilihannya. “Bagaimana dengan gaun terusan ini?”

Ji Seul melirik wanita itu. Menatap ke arah sepotong pakaian yang ada di tangan kirinya. Gaun terusan berwarna putih? Tidak lagi.

Ji Seul tidak mempermasalahkan warna atau bagaimana bentuk dan jenis gaun itu. Semuanya terlihat bagus, Ji Seul akan terlihat baik-baik saja ketika gadis itu mengenakan apapun. Ia hanya merasa sedikit bosan jika harus mengenakan gaun terusan tiga hari berturut-turut.

Ji Seul mengeratkan pegangan di cangkir kopinya. Melihat keluar jendela dan menggeleng kecil. Berharap Bibi Song akan melihat gerakan kecil gadis itu tanpa harus mengatakannya.

“Terlihat seperti ada yang menolak.” Bibi Song menyadari gelengan kecil gadis itu dan mulai memilih baju yang lain.

Ji Seul hanya diam, gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan melihat keluar jendela ketika pelayan Song sibuk dengan urusannya. Ia bahkan tidak merasa bosan memandangi seekor burung yang hinggap di tangkai pohon pagi ini. Mendengar cicitan kecil dari paruh burung putih itu membuatnya sedikit nyaman.

Ji Seul menarik nafas kecil. “Tidak ada sesuatu yang berbeda?” ucapnya.

Gadis itu ingin sesuatu yang lain hari ini. Bukan sepotong gaun terusan berwarna putih polos, rok dengan warna pastel atau cardigan yang biasa dipadukan dengan gaunnya.

Ia sudah mengenakan baju sejenis itu dalam satu minggu. Terlihat feminine terus menerus membuat hidupnya terasa membosankan.

“Berbeda?” Pelayan Song menggerakan alisnya hingga terlihat hampir menyatu. “Kau punya pemikiran yang lain kali ini?”

Pelayan Song hanya menebak. Tidak biasanya gadis itu menolak pakaian apa yang ia pilihkan. Gadis itu terbiasa menyetujui semuanya, ia hanya akan mengangguk dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Tidak ada penolakan.

“Ripped jeans dan sepotong kaos, apakah itu terlihat buruk?”

Ji Seul menyesap kopinya untuk yang terakhir kali. Meletakannya di atas meja sebelum menatap pelayan Song-meminta pendapat darinya. Gadis itu sedikit tidak yakin jika pelayan song menyetujuinya.

“Huh?” Pelayan Song menatap Ji Seul dengan wajah bingungnya.

Gadis itu menghembuskan nafas. Apa ada yang salah dengannya? Ia hanya ingin memberikan pendapat,well kali ini memang untuk yang pertama kali. “Kau tidak menyetujuinya?”

“Bu-bukan begitu,” pelayan Song menggerakan tangannya.

Memberikan tanda kalau apa yang dipikirkan gadis itu tidak benar. Ia hanya merasa sedikit bingung dan sedikit merasa aneh karena ini pertama kalinya Ji Seul memberikan pendapatnya sendiri.

Ji Seul menunggu respon wanita itu. Lalu apakah ia menyetujui usulnya?

Pelayan Song menyadari kalau gadis itu kini tengah menunggu jawaban. “Bagaimana jika celana panjang dan sepotong kaos putih polos?”

Ji Seul mendengarnya dan hanya mengangguk kecil. Ia harus berpenampilan rapi dan sopan dan ripped jeans bukanlah sesuatu yang terlihat seperti itu. Menjadi putri dari seorang bangsawan kadang membuatnya merasa tidak bebas.

“Kau tidak punya jeans sejenis itu Ji” Pelayan Song berkata pelan, ia mengerti. Gadis itu sebelumnya menundukkan kepalanya sedikit sesaat setelah pelayan Song mengucapkan pendapatnya.

Merasa sedikit kecewa?

Pelayan Song tahu benar jika gadis itu bahkan tidak memiliki celana sejenis itu. Segalanya sudah teratur, bahkan tentang sesuatu yang harus gadis itu kenakan.

Ji Seul bangkit dari tempatnya. Mulai melangkah ke arah tempat tidur-mendekati pelayan Song. Gadis itu berdiri di samping tempat tidur dan menatap lurus ke arah sepotong kaos putih dengan tambahan sedikit warna hitam di lengannya. Sebuah celana jeans panjang berwarna biru juga ada tepat disebelah kaos itu.

“Baiklah aku akan memaikainya nanti.” Ji Seul merajut langkah mendekati meja riasnya.

Duduk di atas sebuah kursi kayu bermotif dengan warna cream. Menatap pantulan dirinya yang persis berada di hadapan gadis itu. Rambut hitam panjangnya perlu dikeringkan.

***

07:30

Ji Seul berdiri di depan kaca, mematut diri sambil sesekali menyisir rambut hitam panjang miliknya dengan jari. Pelayan Song baru saja pergi sambil membawa cangkir kopi milik Ji Seul beberapa menit yang lalu.

Kelasnya akan dimulai satu setengah jam lagi, masih cukup banyak waktu yang tersisa. Ia berharap jalanan kota Seoul tidak seramai biasanya jadi kemungkinan gadis itu tidak akan terlambat.

Ji Seul mengikat rambut gelombangnya menjadi kuncir kuda, ia tidak terbiasa jika harus membiarkan rambutnya tergerai. Itu membuatnya merasa tidak nyaman dan sedikit panas.

Gadis itu duduk di sisi ranjang, sedikit membungkuk dan kini ia sedang menggunakan sepatu ketsnya. Berdiri dan mengambil sling bagnya yang ia letakan di atas meja dan juga dua buah buku.

Handphone milik gadis itu berdering sesaat setelah ia menutup pintu kamar bercat putih yang ada di belakang gadis itu. Gadis itu diam dan berdiri di tempat kemudian menggeser layar benda pipih itu dan menempelkannya di samping telinga.

Dia bahkan belum mengecek siapa orang yang tengah meneleponnya sekarang.

“Where are you now?”

Ji Seul mendengus kecil, gadis itu hapal benar siapa yang sedang berbicara di seberang sana.

“Home.” Ucapnya dan bahkan iu terlalu pendek.

“Bisakah lebih cepat?” Orang yang sedang berbicara dengan Ji Seul itu terdengar menghembuskan nafasnya berat, Ji Seul bisa mendengarnya dengan jelas.

“Aku bahkan belum menyentuh sarapanku.”

Ji Seul berkata dengan jujur. Perutnya bahkan sempat berbunyi tadi, Ji Seul tidak mungkin meninggalkan sarapan paginya kali ini. Bagaimana jika saat kelas berlangsung nanti perut kosongnya akan berbunyi.

Bukankah itu benar-benar memalukan?

“Baiklah, do it faster.”

Telepon terputus. Orang di seberang sana yang memutus sambungan telepon. Ji Seul meletakkan handphonenya ke dalam tas dan kemudian mulai melangkah ke lantai bawah. Turun melewati beberapa anak tangga yang ada di rumahnya sebelum berjalan ke arah ruang makan yang ada di bagian tengah.

Rumah di mana gadis itu tinggal bisa dikatakan cukup besar, atau mungkin sangat. Dinding-dinding bercat putih, ukiran-ukiran yang terlihat begitu unik dan beberapa lorong yang ada di dalam rumah itu.

Dari kejauhan Ji Seul bisa melihat kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya telah duduk di kursi. Mengoles beberapa roti dengan mentega menggunakan pisau.

“Good Morning.” Gadis itu sedikit menundukkan kepalanya sebelum.mengambil tempat untuk duduk di samping kakak laki-lakinya. Meletakkan dua buah buku yang sejak tadi ia bawa di lain sisi.

Chan Yeol-kakak laki-laki Ji Seul, menggerakan kepalanya menatap gadis itu dari bawah ke atas. Well mungkin pria itu terlalu cepat menyadarinya.

“Celana jeans, kaos dan sepatu kets?” Pria itu sedikit meninggikan suara. “Tidak seperti biasanya.” Lanjutnya.

Ji Seul hanya mengangguk sebagai jawaban, tidak ingin mengobrol lebih lama dengan pria itu karena ia sudah merasa sangat lapar. Ia ingin segera mengisi perut kosongnya yang hanya terisi dengan secangkir kopi itu.

Ji Seul mengulurkan tangannya, meraih sepotong roti dan mengolesinya dengan selai kacang favoritnya sebagai menu sarapan kali ini.

Dua potong roti dan segelas susu mungkin terasa sangat tidak cukup untuk membuatmu kenyang bagi sebagian orang. Tapi tidak dengan Ji Seul, dua potong roti bahkan sudah membuatnya cukup kenyang.

Tidak heran jika gadis itu memiliki tubuh yang terbilang cukup kurus dan lemak tidak terlihat sedikitpun di tubuhnya. Ditambah dengan segelas susu sapi segar benar-benar membuatnya merasa cukup.

“Chan Yeol akan mengantarmu hari ini.” Ji Seul mendongkan kepalanya, menatap ibunya yang duduk tepat di hadapan Chan Yeol dengan wajah meminta penjelasan.

Gadis itu bukannya menolak, ia hanya tidak terbiasa. Tidak terbiasa dengan alunan musik bergenre rock atau sesuatu yang mungkin bisa membuat Ji Seul menutup telinga jika ia mendengarnya.

Satu mobil dengan pria bernama Park Chan Yeol itu berarti Ji Seul harus siap mendengar jenis musik yang tidak begitu ia sukai. Rock. Itu membuat telinganya sakit.

“Lee Ahjussi, ia baru saja menelepon. Ia merasa tidak enak badan.” Mrs. Park menjelaskan.

Wanita itu tidak perlu menunggu Ji Seul mengucapkan kata ‘mengapa’ karena itu sudah terlihat dengan jelas di wajah gadis itu. Respon yang Ji Seul tunjukan hanyalah menggerakan kepalanya ke atas dan ke bawah.

Lee Ahjussi, memang sudah cukup berumur. Ia bahkan jauh lebih tua dari Mr. Park-ayah Ji Seul. Gadis itu hanya berharap, semoga paman Lee bisa cepat sembuh dan dia tidak perlu berada dalam satu mobil yang sama dengan kakak laki-lakinya.

Sebelum telinganya merasa sakit akibat volume suara yang berlebih.

“Pastikan kalau kau tidak memutar musikmu lagi Chan Yeol.” Mr. Park mengingatkan.

Ayah Ji Seul tahu benar bagaimana kebiasaan putra sulungnya itu, memutar lagu bergenre musik rock ditambah lagi dengan volume suara yang hampir penuh di dalam mobil. Kadang ia heran, mengapa telinga Chan Yeol tidak pernah mengalami gangguan selama ini?
Atau mungkin karena ukuran telinganya yang besar dan itu seolah membuatnya tidak merasakan apapun?

Chan Yeol menunjukkan gigi putih dan besarnya itu sembari mengangguk sebagai jawaban. Ji Seul melihatnya, gadis itu tidak begitu yakin jika Chan Yeol akan benar-benar melakukan hal itu-tidak mendengar alunan musik rock. Oh itu sesuatu yang jarang sekali ia lakukan.

Ji Seul mengambil kembali buku-bukunya setelah kedua orang tuanya pergi dari meja makan. Memeluk kedua benda dengan ukuran yang cukup besar dan tebal itu didepan dadanya, kemudian mengikuti langkah kaki Chan Yeol yang ada di hadapan gadis itu.

“Rumah ini terlalu besar, kita bahkan harus menghabiskan waktu semenit untuk sampai di depan.” Chan Yeol menggerutu kemudian merogoh saku celananya untuk mencari kunci mobil.

Ji Seul hanya diam tidak memberikan respon apapun. Yang ia lakukan adalah tetap berjalan lurus dan mempercepat langkahnya untuk sampai di mobil.

“Kau benar-benar pendiam ya?” Chan Yeol melirik Ji Seul dan ia bahkan tidak mendapatkan respon apapun. Tidak dengan anggukan atau gelengan kepala.

Ia hanya terus berjalan lurus.

Kadang Chan Yeol merasa heran. Ia merasa dirinya sebagai pribadi yang terlalu banyak bicara dan sedikit berisik. Setidaknya itu yang orang-orang katakan tentang dirinya. Pria itu pasti selalu bicara, dalam keadaan apapun. Sedangkan Ji Seul, ia terlalu pendiam.

“Bisakah lebih cepat?” Gadis itu berdiri di samping mobil, sedangkan Chan Yeol, pria itu bahkan baru saja menginjakan kakinya di halaman.

Ia tidak menyadari kalau Ji Seul sudah berjalan di depannya dan kini tengah berdiri di samping mobil hitam milik Chan Yeol.

“Jadi kau menyuruhku menyetir dengan kecepatan penuh kali ini?” Chan Yeol mengangkat alisnya.

“Tidak. Bukan begitu.” Ji Seul masuk ke dalam, lagi-lagi mendahului Chan Yeol.

Dalam hati Ji Seul bertanya-tanya kenapa Chan Yeol begitu lambat dalam melakukan segalanya pagi ini. Ia bahkan sampai lebih dulu dari Chan Yeol. Mungkin kaki-kaki orang kecil seperti dirinya jauh lebih cepat dari pda orang yang berkaki besar seperti Chan Yeol?

Pria itu kemudian masuk setelah beberapa detik berdiri di luar. Sedikit memikirkan apa yang sebenarnya ada di dalam otak Ji Seul.

“Soo Yeon menyuruhmu datang lebih cepat lagi kali ini?” Chan Yeol bertanya sembari memasang sabuk pengamannya-tidak ingin membayar denda dan karena unsur keselamatan.

Ji Seul melirik jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya.

08:06

Oh, ia bahkan sudah melupakan gadis itu. Ji Seul hanya mengangguk sebagai jawaban dan Chan Yeol mulai menghidupkan mesin mobil dan kemudian mulai berjalan keluar pekarangan rumah mereka, membelah jalanan kota Seoul.

Lima puluh empat menit lagi sebelum kelas pertama Ji Seul dimulai dan ia benar-benar berharap kalau jalanan tidak terlalu ramai hari ini. Jarak rumahnya dengan kampus terbilang cukul jauh dan dia tidak ingin terlambat. Mendengar terguran dari guru Ahn di kelas pertama bukan sesuatu yang terdengar menyenangkan.

“Gadis itu suka sekali datang terlalu awal.”

Chan Yeol berucap kecil, mengomentari sedikit tentang perilaku sahabat Ji Seul yang terbilang aneh. Tidakkah gadis itu memiliki kesibukan lain yang bisa ia lakukan hari ini?

Ji Seul tak memberikan respon, hanya memandang keluar jendela dan gedung-gedung tinggi yang mereka lewati. Gadis itu juga sudah bisa menebak, ia pasti akan mendengar alunan musik rock yang diputar Chan Yeol di dalam mobil. Setidaknya kali ini tidak terlalu keras.

Tidak membuat telinganya merasa panas atau mungkin buruknya sakit dan berdarah.

Tidak seperti biasanya.

Yang Ji Seul harapkan adalah, ia bisa segera sampai di kampus dan memisahkan diri dengan Park Chan Yeol.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s