Chaptered · Fanfiction · Humor

Truly I Love You [1st Chapter—lightsdeer]

TRULY I LOVE YOU [BAEK JI HYUN]

Truly I Love You — 1st Chapter

| Author | lighstdeer

| Tittle | Truly I Love You

| Cast | Byun Baek Hyun; Kim Ji Hyun; Kim Min Seok; Park Chan Yeol; Oh Se Hun; Xi Lu Han; Do Kyung Soo; Kim Kai

| Genre | Family, Friendship

| Rating | G

| Length | Chaptered {5952 words/19 pages}

| Disclaimer | The story is pure mine. Don’t copy it without my permission {No plagiarism}. The casts is belong to god and  their entertaiments. Except this one, Lu Han is mine. Happy reading!~^^

Summary :

Kim Ji Hyun, seorang gadis periang yang bertemu dengan seorang laki-laki yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Terlibat beberapa kali dengan laki-laki itu membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Terjebak dalam cerita konyol tentang kisah cinta yang tragis bukan sesuatu yang ia inginkan. Hidupnya begitu dramatis dan tidak berjalan sesuai rencana setelahnya.

Tapi tidak sepenuhnya Ji Hyun menyesali takdir yang telah diberikan. Apakah ia mencintai pria itu? Apakah pria itu mencintainya? Benar-benar mencintainya?

 

Lightsdeer present

 

***

 

Incheon, South Korea.

Celana pendek dengan warna putih polos. Baju tanpa lengan dengan motif bunga berwarna peach. Sebuah tas kecil berwarna senada dengan short pants yang ia kenakan. Gadis dengan rambut cokelat yang ia kuncir kuda dan sebuah koper berwarna pink sedang ia seret keluar dari terminal bandara Incheon.

Handphone dengan case berwarna vintage sedang ia genggam di tangan kirinya. Mata kecilnya melihat ke arah sekeliling bandara, kemudian berjalan ke arah seseorang yang tampak ia kenali. Di belakang gadis itu, tampak seorang pria dewasa yang berlari kecil mengejarnya—tentunya dengan menyeret sebuah troli yang berisi barang bawaanya.

Gadis dengan baju tanpa lengan itu menghampiri seorang yang kiranya mungkin sudah ia hapal di luar kepala. Seorang pria paruh baya dengan pakaian khusus—jas hitam yang terlihat licin sehabis disetrika dan kaca mata hitam tebal yang menggantung di hidung mancung milik pria itu. “Kang ahjussi!”

Walaupun cukup keras, tapi setidaknya teriakan gadis itu tidak mampu untuk membuat seluruh pengunjung bandara melihat atau bahkan melirik ke arahnya. “Ji Hyun!” balasnya tak mau kalah.

Nampak sebuah senyuman yang terlukis di wajah keduanya. Walaupun pria dengan jas hitam itu memiliki keriput yang terlihat jelas di wajah tuanya, senyuman pria itu masih tetap indah untuk dipandang. “Aku sangat merindukanmu, bagaimana kabarmu?”

Tangan gadis bernama Ji Hyun itu tampak terulur dan memegang erat salah satu lengan priatua bermarga Kang itu. Tampaknya gadis itu benar-benar merindukannya. “Seperti yang kau lihat. Aku masih dapat menghirup oksigen dengan baik, setidaknya begitu”

“Ia jauh terlihat lebih baik tanpa hadirnya dirimu, gadis bodoh”

Ji Hyun melirik, melihat seorang pria dengan rambut cokelat gelap tengah menatapnya dengan aneh. “Kang ahjussi akan terlihat seratus kali lebih tua jika mengurus dirimu yang seperti anak-anak”

Pria itu mencibir, tangannya terangkat dan berhasil merusak rambut Ji Hyun yang sebelumnya terlihat rapi—bahkan ikatannya sudah terlihat sedikit renggang. “Tuan dan Nyonya Kim sudah menunggu kalian berdua dirumah, aku akan membantu membawa barang bawaan kalian”

Ji Hyun mengangguk. Ia sedikit menghirup nafas dan kemudian menghembuskannya secara perlahan. Gadis itu menyempatkan diri untuk melihat ke sekeliling bandara—dimana segalanya penuh dengan sesuatu yang berbau Korea. Entah itu kebudayaannya atau bahkan plang-plang menggantung yang bertuliskan hangul—huruf Korea.

Tentu saja, karena ia sedang tidak berada di Jepang seperti sebelumnya.

aku sudah benar-benar ada disini’

Perjalanan dari bandara Incheon ke rumahnya yang ada di salah satu kawasan elit Korea memang memerlukan waktu tempuh yang cukup lama. Gadis dengan rambut yang ia kuncir kuda itupun bahkan terlihat tertidur di jok belakang mobil dengan kepala yang terangkat ke atas.

Tampaknya perjalanan Jepang-Korea membuatnya begitu lelah, sehingga ia mampu tertidur dengan gaya yang terlihat cukup tidak elegant. Pria berkaos biru bergaris yang duduk di samping gadis itu bahkan dapat melihat liurnya yang ada di sudut bibir merah jambu milik Ji Hyun.

Pria itu mendengus, menatap Ji Hyun dengan tatapan tak percaya dan seolah ingin mengatakan kalau Ji Hyun baru saja telah melakukan sesuatu yang menjijikan. “Bagaimana bisa ia mengeluarkan liur seperti itu” keluhnya.

Pria itu memilih untuk memandang ke luar jendela. Dimana dia akan menemukan pemandangan yang lebih menarik dibandingkan harus memandangi seorang gadis tertidur dengan posisi yang tidak mengenakkan. Langit kota Seoul sudah berubah menjadi gelap sejak beberapa menit yang lalu. Pria itu melirik ke arah jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kanan miliknya.

Sudah pukul tujuh.

Dan itu tandanya matahari memang sudah benar-benar tenggelam di barat. Lampu-lampu etalase toko tampak menyala dan begitupun dengan lampu jalan yang menyala secara otomatis. Orang-orang dengan jaket tebal atau coat yang membungkus tubuh tampak berjalan beriringan di trotoar jalan.

Mereka semua punya kesibukan masing-masing.

Termasuk dengan Ji Hyun—yang masih tampak sibuk dengan dunia mimpinya. Dan pria dengan kaos biru bergaris yang duduk di samping gadis itu, walaupun hanya memandang keluar jendela.

“Apa kita sudah sampai?” Pria berkaos biru tampak terkejut. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang duduk di sampingnya sejak beberapa menit yang lalu. Tampaknya Ji Hyun punya keahlian baru yang terlihat buruk.

Pria itu menghebuskan nafas sebelum ia menjawabnya. Setidaknya ia harus terlihat lebih tenang dan tidak menunjukan wajah seolah dia baru saja terkena serangan jantung atau mungkin hal terburuk adalah kalau pria itu baru saja melihat hantu.

“Mungkin beberapa menit lagi kita akan sampai, bersabarlah” Ji Hyun tampak mengeluh. Ia protes karena mungkin sudah sekitar satu jam lebih ia tertidur dan sekarang ia bahkan belum menginjakan kaki di rumahnya.

Ia sempat berpikir apa segerombolan keledai baru saja menghadang jalan Tuan Kang sehingga ia bisa terlambat untuk sampai di rumah? Tapi tentunya itu hanyalah pemikiran bodoh anak berumur lima tahun yang tidak tahu apa-apa. Sekarang ia sedang berada di kota Seoul dan mana mungkin segerombolan keledai atau tupai akan menghadang mobilnya—sepatutnya Ji Hyun tak memikirkan hal itu.

Gadis itu melihat ke luar jendela. Ia bahkan tak menyangka kalau langit sudah berubah menjadi gelap. “Aku benar-benar ingin merendamkan tubuhku ke dalam air hangat lalu pergi tidur dan bangun esok sore” Keluhnya.

“Dan kau akan terlihat seperti seekor beruang yang sedang mengalami siklus hibernasi karena tertidur selama itu,” Celetuk pria yang duduk di samping Ji Hyun.

Mungkin reaksi yang diberikan Ji Hyun terlalu berlebihan. Tapi bisa dilihat dengan jelas di wajah bulat gadis itu kalau ia sangat tidak terima kalau dirinya itu disamakan dengan seekor beruang kutub yang memiliki bulu tebal dan sangat menggelikan—semua orang tahu kalau Ji Hyun bukanlah seekor beruang.

“Kau seperti nampak tidak terima dengan ucapanku barusan,” Pria itu terkikik menyadari ekspresi Ji Hyun yang terlihat begitu menggelikan.

Ji Hyun memutarkan bola matanya. “Apa aku terlihat seperti gadis yang baik-baik saja begitu orang lain mengatainya beruang? Kau tahu, aku merasa harga diriku benar-benar direndahkan” Ji Hyun bahkan berbicara dengan nada yang terlalu cepat—mungkin efek emosinya yang sudah mencapai ujung kepala.

“Aku tidak pernah mengerti ekspresi wajahmu. Kau terlihat sama saja saat sedang marah, kesal atau sedang biasa-biasa saja. Menurutku, wajahmu selalu seperti itu. Dengan bibir yang melengkung ke bawah dan mata yang terlihat aneh,”

Ji Hyun menahan nafasnya. Well, menurutnya itu terdengar sangat menyedihkan. Walaupun sebagian dari dirinya tidak ingin mempercayai ucapan pria itu tapi sisi yang lain ia benar-benar khawatir kalau ia terlihat seperti itu—ia tidak ingin memiliki wajah dengan bibir yang melengkung ke bawah.

“Kita sudah sampai. Dan sebaiknya kita tidak harus bertengkar di dalam mobil milik appa, sebelum ia menghukum kita,”

Pria itu hanya menunjukan sneyum tampannya sebelum akhirnya benar-benar enyah dari hadapan Ji Hyun—keluar dari dalam mobil. Sementara gadis itu sedang mengontrol nafasnya, entahlah akhir-akhir ini ia menjadi sedikit sensitif.

Beberapa menit Ji Hyun diam duduk di jok belakang mobil dengan pandangan lurus ke depan. Sebenarnya ia masih belum benar-benar percaya kalau dirinya, raganya benar-benar berada disini. Ia bahkan tak mneyangka kalau ia akan mengiyakan keputusan ayahnya beberapa bulan  yang lalu untuk menetap di Korea bersama pria bodoh berkaos biru tadi dan juga bersama kedua orang tuanya.

Ini hanya terlihat seperti mimpi dan sedikit klise. Baru beberapa jam yang lalu ia tidur di negara seberang dan sekarang ia bahkan sudah  menginjakan kaki dirumah barunya. Rasanya baru seperti kemarin ia memutuskan untuk pindah ke Korea dan sekarang ia sudah benar-benar berada disini.

Entahlah, gadis itu hanya tidak ingin memikirkan hal itu sekarang.

Ia hanya butuh bath tub dengan air hangat yang ada didalamnya dan dengan begitu ia bisa mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

Ia melirik ke arah kaca kotak kecil yang ada di depan. Paman Kang bahkan masih duduk dengan setia menanti Ji Hyun keluar dari dalam mobil. Ngomong-ngomong sudah berapa menit ia duduk sendirian tanpa pria berkaos biru di sebelahnya?

Dan Ji Hyun tidak  habis pikir, bahkan pria itu belum mengucapkan sepatah katapun atau ucapan terimakasih pada Paman Kang karena sudah mau mengantarnya. Ji Hyun agak sedikit tidak mengerti dengan pria itu—lebih tepatnya sangat.

“Terimakasih karena sudah mengantar kami, semoga malammu menyenangkan”

Dan Ji Hyun pun keluar dari dalam mobil yang sejak tadi mengantarnya.

Gadis itu diam di tengah- tengah halaman luas yang penuh dengan rerumputan hijau. Mobil yang dikemudikan Paman Kang sudah melaju sejak beberapa menit yang lalu dan Ji Hyun masih merasa betah untuk berdiri sendiri di tengah halaman rumahnya.

Tanah yang ia pijaki sedikit terasa becek karena mungkin beberapa menit yang lalu hujan turun. Gadis itu berjalan perlahan menuju pintu utama bercat putih yang berjarak beberapa meter di depannya. Dan sekarang bahkan gadis itu dapat melihat sebuah air mancur dengan warna senada. Ia ingat rumahnya di Jepang bahkan tak ada air mancur sejenis ini, hanya ada sebuah kolam ikan dengan lumut hijau dan beberapa ikan mas yang hidup di dalamnya.

“Kau terlalu lama diam di luar Kim Ji Hyun, cepat masuk sebelum air hangatmu benar-benar akan berubah menjadi air dingin” Pria berkaos biru bergaris sudah berdiri di ambang pintu utama. Ji Hyun sedikit terkejut karena tiba-tiba saja pria itu sudah diam disana dengan tanpa Ji Hyun ketahui.

Gadis itu hanya mengangguk kecil sebagai balasannya. Ia sedang tidak berniat untuk mengeluarkan sepatah katapun. Rasanya ia sedang malas untuk menggerakan bibirnya barang hanya untuk mengatakan kata ‘ya’

Baiklah, air hangatnya sudah menunggunya didalam dan tidak sepatutnya Ji Hyun meninggalkannya sendirian. Lagipula Ji Hyun sedang tidak ingin mandi bersama air dingin karena suhu tubuhnya tidak mendukung.

Ia harus menghabiskan beberapa waktu yang terisisa untuk mengistirahatkan tubuhnya  di dalam bath tub dan barangkali menelan sedikit camilan malam. Ia benar-benar butuh istirahat yang cukup.

—Truly I Love You—

Burung-burung nampak berterbangan di langit pagi kota Seoul. Langit sudah tampak lebih cerah dibandingkan dengan jam-jam sebelumnya karena matahari sudah memperlihatkan cahayanya. Angin pagi berhembus dan sangat terasa menyejukkan. Embun-embun pagi sudah nampak terlihat di ranting ataupun daun-daun hijau yang tumbuh.

Sinar matahari yang bersinar terang, masuk melalui celah-celah jendela dan secara tak sengaja membuat tidur seseorang merasa terusik. Sinar itu benar-benar menyilaukan dan benar-benar membuatnya merasa tak nyaman.

Gadis itu mengeluh, menutup wajah bulatnya dengan bantal bersarung putih di atas tempat tidur—berniat untuk menghalau sinar matahari pagi yang mengganggu tidur indahnya. Ia menggeser tubuhnya ke ujung tempat tidur yang tentunya jauh dari jendela.

Gadis itu belum berniat untuk bangun atau barangkali membuka sedikit matanya.

Padahal jam sudah menunjukan pukul delapan pagi dan setidaknya sebagai seorang gadis sudah sepatutnya ia untuk bangun dan membasuh wajahnya.

Gadis itu kembali menarik selimut hingga menutupin seluruh tubuhnya—termasuk wajah, dan kembali mempersiapkan dirinya untuk berkelana menjelajahi alam bawah sadar. Tubuhnya benar-benar terasa lelah dan kaku, lagipula ia pikir kalau ia benar-benar butuh istirahat tambahan. Walaupun ia sudah tertidur selama kurang lebih sepuluh jam, ia rasa itu masih belum cukup.

Tapi sialnya, seseorang telah mengetuk pintu kamarnya dari luar dan itu benar-benar mengusik.

Tidakah orang di luar sana itu mengerti keadaan dan perasaanya kalau ia benar-benar butuh istirahat?

“Kau harus bangun. Jika tidak kau akan ketinggalan sarapanmu” Ucap seorang di luar sana yang Ji Hyun sudah hapal di luar kepala siapa pemiliknya.

Ji Hyun mencibir dari bawah selimutnya. Kalau seperti ini ia tidak akan benar-benar bisa untuk jatuh tidur terlelap lagi. Dan lagi pula setelah pria itu mengucapkan kata sarapan, perut Ji Hyun langsung berkoar—seperti protes dan langsung ingin menyantap sarapan paginya.

Ia ingat, semalam dirinya hanya makan beberapa bungkus makanan ringan dan tentu saja itu belum cukup untuk membuatnya merasa kenyang.

Maka sebelum pria di luar sana itu menghabiskan seluruh jatah sarapannya, gadis itu lebih memilih untuk menyingkap selimut putihnya dan berjalan menuju kamar mandi. Setidaknya ia harus terlihat sedikit lebih segar sehabis bangun tidur dengan membasuh muka. Ia tidak ingin orang lain melihat betapa buruk dan jeleknya wajah gadis itu sehabis bangun tidur.

Setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi, Ji Hyun keluar dengan keadaan yang terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Rambut cokelat yang sebelumnya terlihat berantakan, kini sudah ia sisir rapi dan di selipkan di belakang telinganya.

Ia hanya ingin terlihat lebih feminim dan dicap sebagai seorang gadis yang mampu menjaga penampilan.

Ji Hyun turun melewati tangga rumahnya dan berjalan menuju meja makan dimana kedua orang tuanya dan satu anak laki-laki menyebalkan duduk di atas kursi. Gadis itu mendekati mereka dan mengambil tempat untuk duduk di samping ibunya.

“Kenapa kau turun lama sekali?” Laki-laki yang duduk dihadapan Ji Hyun tampak memasang wajah protes. “Aku benar-benar akan mati kelaparan jika kau tak kunjung turun,”

“Terlalu berlebihan. Kenapa kau tidak langsung saja menyantap sarapanmu?” Balas Ji Hyun dengan pandangan tajam. Menurut Ji Hyun laki-laki yang duduk dihadapannya itu terlalu melebih-lebihkan.

Well, lagipula Ji Hyun sama sekali tak berkata kalau laki-laki itu tidak boleh manyantap sarapannya sebelum ia datang.

“Aku memperhatikan etika, bodoh” Pria itu mencibir dan Ji Hyun hanya memutarkan kedua bola matanya.

Tuan dan Nyonya Kim tampak bingung dengan keadaan dua anak itu. Bisa-bisanya mereka bersikap seperti itu setelah lama tak bertemu dalam kurun waktu 1 tahun. “Penampilan kalian saja yang terlihat dewasa, tapi sikap dan sifat kalian masih nampak seperti anak-anak” Nyonya Kim menggelengkan kepalanya.

“Bisakah kita menyantap makanannya saja? Tanpa ada kritikan ataupun nasihat. Aku benar-benar merasa kelaparan disini,” Ji Hyun mulai mengoceh. Pasalnya jika ibunya itu terus melanjutkan ucapannya nanti, itu akan benar-benar menghabiskan waktu yang lama dan Ji Hyun pikir ia akan menjadi seorang busung lapar jika menunggu ibunya selesai mengoceh.

Ji Hyun memperhatikan ke atas meja makan. Well semuanya masakan Korea dan sesungguhnya Ji Hyun belum terbiasa dengan hal itu. Tapi hanya itulah pilihan Ji Hyun, jika gadis itu memutuskan untuk tidak makan hanya gara-gara ia tidak terbiasa dengan makanan Korea, mungkin perkataannya beberapa waktu yang lalu akan terkabul.

Dan akhirnya mereka semua makan dengan suara dentingan garpu dan sendok yang saling bertabrakan.

Ji Hyun mengelap bibirnya dengan tisu. Ia sudah merasa benar-benar kenyang sekarang dan ia rasa makanan Korea tak seburuk yang ia pikirkan. Mungkin gadis itu harus sering mengesklporasi makanan-makanan apa saja yang ada di Korea. Ia pikir, ia benar-benar menyukainya.

“Ji Hyun, mulai besok kau sudah bisa masuk sekolah” Tuan Kim menghentikan langkah Ji Hyun yang hendak pergi dari ruang makan.

“Oh ya, sekolah” Gadis itu mencibir pelan. Ia bahkan lupa kalau musim liburannya sudah habis dan kini ayahnya mengingatkannya kembali. “Lalu, apa ada sesuatu yang harus aku kerjakan? Kuharap sekolah itu tidak mengadakan kegiatan untuk penerimaan murid baru”

Ji Hyun hanya sedang dalam mood yang tidak bagus untuk mengerjakan sesuatu—seperti tugas MOS dan semacamnya. Maka dari itu Ji Hyun berharap kalau sekolah barunya tidak mengadakan hal-hal sejenis itu.

Tapi sialnya jawaban dari laki-laki itu membuat dirinya ingin mencekik pria itu karena sudah mengatakan hal yang membuat Ji Hyun merasa menimpa kesialan berlebih.

“Ada,” jawabnya dengan senyuman aneh yang terlukis di bibir. “Hanya 3 hari”

Rasanya Ji Hyun ingin mencakar wajah pria itu dan kemudian menggunting rambutnya sampai ia tidak memiliki secuil rambut pun yang tumbuh di atas kepalanya. Bagaimana mungkin pria itu  meletakkan kata ‘hanya’ dalam kalimatnya. Tiga hari bukanlah waktu yang sangat singkat, itu sudah menjadi seperti neraka menurut Ji Hyun.

“Ti-tiga hari?” gadis itu tampak melongo dan tak percaya dengan ucapan pria itu.

Seingat Ji Hyun, sewaktu ia melakukan kegiatan sejenis itu di Jepang, itu hanya memakan waktu selama satu hari dan sekarang? Rasanya ia benar-benar ingin menelan kodok liar di sawah.

Pria itu tersenyum aneh dan tampak tertawa melihat ekspresi Ji Hyun. “Hanya tiga hari dan kau hanya perlu membawa alat tulis dan juga dirimu. Kupikir itu tidak akan sesusah seperti yang kau bayangkan,”

Ji Hyun hanya ingin merendamkan dirinya di dalam bath tub yang berisikan air hangat untuk meredam stressnya sekarang.

—Truly I Love You—

Bunyi daun-daun bergesekan semakin terdengar ketika angin sore semakin bertiup cepat. Langit di atas belum terlalu gelap, masih tampak matahari yang seakan enggan untuk menenggelamkan dirinya.

Suara dentuman benda dengan tanah yang ada di bawahnya semakin terdengar ketika seorang anak laki-laki mulai mendribbel  bola basket yang ada di tangannya. Benda berwarna oranye itu tampak asik di lempar dari satu tangan ke tangan yang lain begitu seterusnya, saling bergantian.

Anak laki-laki dengan pakaian rumahnya dan ada segelintir dari mereka yang menggunakan pakaian basket—baju tanpa lengan dengan lebar lingkaran yang cukup untuk memperlihatkan ketiak mereka yang menghitam.

Ada sekitar dua orang anak laki-laki yang duduk di bawah pohon mapel sementara empat yang lainnya masih asik mempermainkan bola basket yang ada di tangan mereka. Dengan punggung yang bersender di kokohnya batang pohon, salah satu dari mereka mulai berbicara.

“Menyedihkan, bahkan aku rasa aku baru mendapatkan libur selama satu minggu dan sekarang aku harus masuk sekolah lagi?” salah satu anak dengan baju tanpa lengan tampak menggerutu.

Bahkan tangan anak itu ikut juga berpartisipasi untuk mengungkapkan kekesalannya, dengan tidak ada rasa bersalah pria itu mencabut rumput di dekatnya.

Anak laki-laki di sampingnya hanya mendecak untuk merespon apa yang baru pria di sampingnya itu bicarakan. “Ingat Jong In, kita bahkan sudah libur selama satu bulan dan kau rasa itu masih belum cukup?”

Pria bernama Jong In tampak menyatukan alisnya, menatap tak percaya laki-laki itu.

“Mungkin bagi anak pintar dengan kemampuan super seperti dirimu kau pikir itu berlebihan, tapi untukku? Oh jangan harap, bahkan aku ingin pemerintah memberikan bantuan pada anak-anak malang sepertiku untuk libur selama 6 bulan dan itu harus terjadi dua kali dalam setahun,”

Laki-laki disebelahnya mendesis. Menatap Jong In dengan tampang ‘Apa-apaan kau ini?!’ dan seolah ingin mendorongnya ke kandang banteng.

“Sekalian saja kau liburkan dirimu bodoh,”

“Sebodoh-bodohnya aku tentu aku masih memiliki nama, setidaknya jangan panggil aku bodoh dan—“

“—yah maksudmu aku harus memanggilmu Jong In?” laki-laki itu menyela, ia bahkan sudah tahu maksud perkataan Jong In yang menurutnya begitu lama untuk pria itu pikirkan.

Jong In hanya menunjukkan kedua gigi putihnya, menyengir seperti kuda liar yang butuh disuntik. “Bukankah aku sudah memberikan label nama baru untukku? Apa kau tak ingat?”

Pria itu hanya menggelengkan kepalanya sambil melihat ke depan—melihat teman-temannya yang lain di tengah lapangan. Pria itu bahkan tak memperdulikan perubahan ekspresi Jong In dengan wajah aneh seperti menahan kentut yang sudah berada di ujung.

“Kai, okay.”

Kai hanya mengalihkan kepalanya dari pria berbaju biru itu. Ia pikir temannya itu benar-benar lupa akan nama barunya, well tidak benar-benar baru karena Kai sudah menggunakan itu selama satu tahun tapi tidak satu pun dari temannya yang memanggilnya dengan nama itu.

Kai rasa hidupnya benar-benar menyedihkan.

Seorang teman Kai yang lain menghampiri mereka dengan keringat yang sedikit bercucuran di dahinya. Pria jangkung dengan senyuman aneh yang semakin melebar ketika berada di depan kamera dan mulai menimbulkan bau tidak sedap ketika pria itu sudah ada di hadapan Kai dan teman yang duduk di bawah pohon mapel bersamanya.

Bahkan sejujurnya Kai merasa geli karena cengiran itu benar-benar terlihat menggelikan dan sekarang ia harus dipaksa untuk menahan napas karena baunya benar-benar menusuk hidung.

“Hidup kalian benar-benar membosankan,” ucap pria itu sambil mengelap keringat di dahi menggunakan punggung tangannya.

Rasanya Kai ingin sekali membalas sindiran pria itu, ‘Hidupmu benar-benar menjijikan Park Chan Yeol’

Pria jangkung dengan tinggi di atas rata-rata itu mendudukan dirinya di depan Kai juga temannya dan mulai menatap Kai dengan tampang menggelikan dan membuatnya merinding—Kai tidak suka jika seorang laki-laki menatapnya begitu dalam, itu tidak normal.

“Duduk berdua di bawah pohon mapel, kalian terlihat seperti seorang penyuka sesama jenis” pria itu tampak memasang wajah mengerikan dan menjijikan di saat yang bersamaan.

Kai hanya memutarkan kedua bola matanya mendengar ucapan temannya itu. Mungkin ia sedikit gila telah berpikiran kalau lelaki seperkasa Kim Kai adalah penyuka sesama jenis. “Kau benar-benar tidak menyukainya ‘kan? Baekhyun?”

“Jangan mengada-ada Chan Yeol,  kau bahkan mungkin masih ingat dengan benar bagaimana mesumnya seorang Kim Jong In,” jawabnya acuh.

Ucapan Baek Hyun semakin diperkuat dengan perilaku Kai yang hanya diam saja kalau Baek Hyun mengatakan hal seperti itu tentang dirinya.

Itu adalah sebuah bukti kuat kalau seorang Kim Kai adalah pria yang mesum.

—Truly I Love You—

Baek Hyun tampak sedang berkonsentrasi mendribbel bola basket berwarna oranye itu di tangannya. Mengoper benda berbentuk bulat itu dari tangan kanan ke tangan kirinya sambil terus menatap lurus pergerakan Chan Yeol yang berada persis di depan pria itu.

Baek Hyun sedang bertanding basket dengan temannya yang lain—Chan Yeol, Se Hun, Lu Han, Kai dan juga Kyung Soo.

Dan sekarang fakta pahit yang harus di terima Baek Hyun adalah timnya tertinggal sebanyak sepuluh poin. Dia benar-benar belum siap jika nanti harus mentraktir Chan Yeol dan teman setimnya.

Kenyataannya Baek Hyun bukanlah seorang teman baik yang dengan lapang dada mentraktir atau memberikan makanan secara gratis bahkan untuk temannya sekalipun. Ia tipikal seorang laki-laki yang sedikit kikir atau mungkin tipikal pria yang suka berhemat.

Gerakan demi gerakan terus Baek Hyun lakukan untuk melindungi bola basketnya agar tidak di rebut oleh Se Hun ataupun Kai. Baek Hyun melirik Lu Han yang bagusnya saat itu sedang tidak ada siapapun yang menjaganya.

Baek Hyun melempar bolanya pada Lu Han dan pria Cina dengan rambut kecoklatan miliknya itu segera menangkap dengan baik dan melempar bola basket itu dengan baik ke arah ring.

Masuk.

Tapi sayangnya Baek Hyun harus butuh sekitar 8 poin lagi untuk mengalahkan tim Chan Yeol sedang permainan akan berakhir tiga menit lagi. Oh Baek Hyun tidak bisa menganggap tim Chan Yeol adalah tim yang cukup mudah untuk di kalahkan.

Tiga menit bukanlah waktu yang sangat cukup untuk mengalahkan pria manis dengan senyuman idiot miliknya itu. Baek Hyun menyesali takdirnya kenapa ia harus setim dengan pria berpostur pendek sejenis Lu Han ataupun Kyung Soo—dan itu juga termasuk dirinya.

Kali ini Baek Hyun benar-benar menyalahkan takdir.

Chan Yeol mendribbel bola basketnya dan menatap Baek Hyun dengan tampang meremehkan—itu membuat harga diri Byun Baek Hyun terinjak.

“Dua menit lagi permainan akan segera selesai. Masih berharap kalau kau akan mengalahkan timku?” pria itu tersenyum miring.

Chan Yeol berkata seolah dirinya adalah pemain basket tingkat dunia yang sedang mengalahkan seorang pemain sejenis Baek Hyun yang permainanya tidak jauh lebih baik dari anak kecil berumur lima tahun dan masih menggunakan popok.

Baek Hyun tak menjawabnya, pria itu masih fokus pada bola yang dibawa Chan yeol di tangannya. Dalam hitungan detik Baek Hyun dapat merebut bola itu, Baek Hyun pikir Chan Yeol terlalu sombong.

Bahkan Chan yeol hanya baru memasukan satu bola ke dalam ring ia sudah sesombong itu.

Se Hun dan Jong In lah yang harusnya diberikan penghargaan jika nantinya mereka akan menang. “Memberikanmu makanan gratis hanya ada di dalam mimpimu, Park Chan Yeol”

Baek Hyun membawa bola basket dengan cepat dan berniat melemparkan bola itu ke arah Lu Han yang sudah ada di dekat ring. Pria itu mengangkat sedikit tangannya dan bersiap menlemparnya pada Lu Han.

Dan.

 

1 detik…

 

 

2 detik…

 

 

5 detik…

“Ah!”

Itu bukanlah sebuah desahan aneh milik Kai ataupun desahan milik orang lain.

Baek Hyun sedikit meringis seolah ia merasakan hal yang sama dengan apa yang orang itu rasakan.

Seorang gadis dengan baju polos berwarna putih tampak jatuh terduduk di atas tanah basah yang letaknya tak jauh dari lapangan basket tempat Baek Hyun dan temannya bermain.

Memegang kepalanya—atau mungkin lebih tepatnya dahi, dengan mulut yang terus mengaduh kesakitan. Gadis itu mengusap-usap kepalanya dengan telapak tangan—mungkin berniat untuk menghilangkan rasa sakit yang melanda barang sedikit saja.

Baek Hyun menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.

Menghampiri Lu Han yang tak jauh berdiri dari gadis itu dan membisikan sesuatu. “Apa itu salahku? Bola basket tadi benar-benar mengenai dahinya?”

Lu Han menatap Baek Hyun tak percaya. “Lalu kau mau menyalahkan ku sekarang dan mau berkata kalau aku yang baru saja melempar bola basket itu?” Lu Han mungkin terlalu cepat berkata-kata, tapi sebenarnya ia tidak ingin disalahkan karena ulah Baek Hyun.

Baek Hyun menggeleng dan menjauhkan kepalanya dari tangan Lu Han yang sudah terangkat, sepertinya pria itu tadi berniat untuk menarik rambut Baek Hyun.

“Kau tak berniat untuk menghampirinya?” Chan Yeol memunculkan dirinya dan berdiri tepat di belakang Baek Hyun dan menatap prihatin pada seorang gadis dengan rambut tergerai yang masih terduduk di atas tanah.

Baek Hyun merasa bahwa dirinyalah yang bersalah dan sebagai lelaki yang bertanggung jawab sudah sepatutnya ia harus menolong gadis itu. Ia tidak mau di cap sebagai laki-laki pengecut sejenis Tae Jun—anak laki-laki yang jatuh cinta pada sepupu Baek Hyun tapi tidak berani menyatakan perasaanya sedikitpun.

Baek Hyun menarik napasnya dalam-dalam, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana baru kemudian berjalan santai ke arah gadis yang jatuh akibat ulahnya.

“Bahkan sikap dinginnya itu juga ia keluarkan,” Kai menggelengkan kepalanya sambil menatap Baek Hyun yang sedang berjalan menuju gadis itu.

Chan Yeol menggeleng, tampak tidak setuju dengan pernyataan yang baru saja dibuat oleh Kai. “Lebih tepatnya ia hanya bertingkah seperti seorang laki-laki yang terlalu sok keren,”

Baek Hyun berjongkok di hadapan gadis itu dan meringis begitu melihat dahi gadis itu terluka. Baek Hyun sangat belum siap jika harus menemukan resiko lainnya. Seperti mungkin saja gadis itu menjadi amnesia dan melupakan siapa dirinya sebenarnya.

Lalu keluarga gadis itu menuntut Baek Hyun dan membuat Baek Hyun harus mendekam di penjara akibat perbuatannya. Menghabiskan sisa masa remajanya yang begitu berharga di dalam penjara yang sangat dingin dan sendirian.

Lalu teman-temannya yang lain akan menjenguk Baek Hyun satu kali dalam seminggu, memberikan salam, menanyakan kabar dan menunjukan rasa prihatin dan dengan wajah kasihan yang menjengkelkan di mata Baek Hyun.

“apa yang kau lakukan?” Baek Hyun terkejut dan itu membuatnya tertarik kembali ke dunia nyata.

Baek Hyun melihat gadis itu dan nampak menatap sinis ke arahnya. Melihat aneh Baek Hyun seolah ia adalah seorang dengan gangguan jiwa yang menatap penuh minat ke arah seorang gadis kecil dan polos.

Baek Hyun bahkan baru menyadari kalau ada seorang lain yang sudah ada di sebelah gadis itu. Seorang wanita paruh baya dengan rambut putih yang sedikit muncul di sela-sela rambut kepalanya sambil menatap aneh Baek Hyun.

“aish,” Baek Hyun mengacak asal rambutnya. Melirik teman-temannya yang ada di lapangan basket dan sialnya mereka malah sedang asik menyantap bekal yang mereka bawa dan saling melemparkan tawa.

Mereka tampak berakting seolah-olah kalau ia tidak mengenal Baek Hyun dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dalam hati Baek Hyun sudah mengutuk dan mengeluarkan sumpah serapah untuk teman-temannya dan terutama untuk Chan yeol juga Lu Han yang sangat terlihat bahagia.

Baek Hyun menghembuskan nafasnya pelan. “Apa kau baik-baik saja?”

“Apa aku terlihat seperti orang yang baik-baik saja?” Gadis itu perlahan bangkit dari duduknya.

Sedikit menepuk-nepuk baju yang ia pakai agar debu-debu yang menempel sedikit menghilang. “Sudahlah, lebih baik kau pulang saja.  Itu sudah cukup untukku menyaksikan wajah bodohmu yang terlihat seperti seekor keledai”

Baek Hyun menahan napas. “A-apa?”

“Kau pikir apa yang kau lakukan? Duduk berjongkok di hadapanku kemudian memikirkan sesuatu tanpa mengucapkan apa-apa”

Gadis itu seakan sudah memberikan penjelasan yang sangat bagus untuk Baek Hyun mengenai apa yang barusan ia lakukan. Dan Baek Hyun pikit itu bukanlah sesuatu yang baik.

“Aku berniat untuk meminta maaf, tapi kau bahkan mengataiku seperti seekor keledai, kau tahu itu sedikit tidak—“

Gadis itu mendengus. “Lalu apa, kau berniat menyuruhku untuk meminta maaf?”

Baek Hyun mengangguk. “Tentu sa—“

“Tapi itu tidak akan terjadi,” Gadis itu menatap Baek Hyun dengan tampang angkuhnya. Dan sadar atau tidak, rupanya Baek Hyun masih dengan setia berjongkok di hadapan gadis itu.

“Tenang saja, aku tidak akan menuntut ganti rugi atau apapun mengenai kejadian ini. Aku bahkan kasihan terhadapamu, kau tidak dianggap sebagai teman?”

Baek Hyun meringis dan melirik ke arah Chan Yeol dan yang lainnya. Bahkan sampai detik ini mereka semua masih asik menyantap bekal. “Saranku, berikan mereka semua sedikit pelajaran. Maksudku teman tidak seharusnya seperti mereka”

Gadis itu berlaru dan pergi meninggalkan Baek Hyun.

Pergi dengan seorang wanita paruh baya yang terlihat seperti bibi gadis itu.

Baek Hyun bahkan lupa kalau dirinya sama sekali belum mengucapkan sepatah kata maafpun mengenai insiden bola basket. Ia bahkan belum bertanggung jawab atas luka memar yang diterima gadis itu—atau setidaknya mentraktir sebotol obat merah untuk mengobati lukanya.

Chan Yeol dan Lu Han berlari terpogoh-pogoh menghampiri Baek Hyun yang berdiri sendirian. Bahkan Lu Han sempat menawarkan sebuah botol minum yang berisi air mineral seakan-akan Baek Hyun terlihat seperti orang yang sedang membutuhkan hal itu.

“Apa yang gadis itu katakan?” Chan Yeol menepuk punggung Baek Hyun. Menatap serius kearah bola mata cokelat miliknya.

Pria itu hanya tersenyum miring. “Kalian pasti akan kaget mendengarnya”

“Tidak, aku bahkan sudah sangat siap mental jika ternyata gadis itu menuntutmu,” Lu Han menjawab dengan tampang datarnya.

“Apa gadis itu mungkin akan memasukkanmu ke dalam penjara?” Chan Yeol berkata dengan wajah tidak santainya. “Sungguh itu benar-benar menyeramkan” lanjut pria jangkung itu.

Senyum miring bahkan masih terpatri dengan jelas di wajah bulat pria bernama Baek Hyun itu. Baek Hyun pikir mereka semua berakting seolah tidak ada yang pernah terjadi dan sekarang mereka datang seolah mereka tidak mempunyai kesalahan apapaun.

Maksudku, meninggalkan Baek Hyun seorang diri dengan gadis asing yang sedikit aneh dan sinis dan anarkis—pemikiran Baek Hyun, untuk menghadapi masalahnya. Tidakkah sepatutnya mereka ikut bergabung atau paling tidak berdiri di samping Baek Hyun?

“Apapun yang terjadi padamu Baek, aku akan—“

Perkataan Lu Han terpotong,

“Kau tahu, gadis itu menyuruhku untuk memberikan pelajaran pada kalian semua. Mungkin dimulai dari laki-laki bernama Park Chan Yeol dengan senyum kuda liar miliknya,”

Truly I Love You

Ji Hyun duduk diam di atas ranjang berukuran queen size miliknya. Di tangan gadis itu terlihat sebuah cermin berbentuk kotak yang memperlihatkan secara penuh bagian wajahnya. Well, sebenarnya gadis itu hanya membuat cermin itu agar memantulkan bayangan dahinya yang sedikit memar akibat insiden tadi.

Pria dengan tampang keledai yang secara anarkis melempar bola basket ke wajahnya.

Sebenarnya tidak benar-benar anarkis, Ji Hyun hanya suka melebih-lebihkan. Tapi melihat kondisi wajahnya yang bisa dikatakan tidak baik saja, mungkin membuat emosi gadis itu sedikit meningkat.

Warna biru dan terlihat sedikit menonjol. Atau mungkin bengkak? Ji Hyun tidak tahu bagaimana caranya untuk mendeskrepsikan dengan benar kondisi wajahnya saat ini.

Yang jelas, besok ia harus terbangun pagi sekali karena tentu saja sekolah baru—dan teman baru, akan menantinya. Ji Hyun hanya merasa tidak percaya diri jika ia harus datang ke sekolah dengan wajah semengenaskan seperti itu. Ia pikir ia harus tampil sempurna—tanpa benjolan pada wajah, teman barunya mungkin saja akan mengatainya nanti.

Ji Hyun mengeluh sekali, jika ia terus menatap wajahnya di cermin itu, bisa saja cerminnya akan jatuh pecah dan terbelah menjadi beberapa bagian. Sebelum hal itu terjadi, Ji Hyun sudah mengantisipasinya, meletakkan cermin kesayangannya di laci nakas mungkin adalah hal yang baik.

Lagipula seseorang sudah mengetuk pintunya sejak tadi. Ji Hyun tidak ingin jika orang itu akan berpikiran kalau Ji Hyun terlalu terlena dengan kesialan yang menimpanya—menatap wajah benjolnya di depan cermin dengan tampang frustasi.

“aku tidak mengunci pintunya, Kim Min Seok” Ji Hyun sudah menebak kalau itu pasti pria pemilik pipi bakpao.

Suara pintu berderit terdengar. Pintu bercat putih milik Ji Hyun terbuka lebar dan Min Seok tepat berdiri di ambang pintu kamar Ji Hyun—sambil menatap datar ke arahnya. “tidak sopan sekali dirimu, Kim Ji Hyun”

“Aku tidak begitu menyukainya ketika aku harus memanggilmu ‘oppa or something else. Terdengar sangat aneh dan menggelikan” Ji Hyun menyisir rambutnya santai, tanpa sedikitpun melirik ke arah Min Seok yang masih berdiri—dengan tampang datar, di pintunya.

Min Seok mendengus. Well mungkin dulu atau pada kehidupan sebelumnya ia punya suatu kesalahan pada Ji Hyun dan membuatnya menimpa kesialan seperti ini. Memiliki adik perempuan—yang sedikit mengerikan, sejenis Ji Hyun bukanlah hal yang mudah.

“Tidak juga, memanggilku menggunakan nama yang lebih sopan kupikir bukan hal yang buruk,” Min Seok menjelaskan.

Bukannya ia merasa risih atau seperti apa ketika Ji Hyun memanggilnya tanpa menggunakan embel-embel ‘oppa’ atau sejenisnya, Min Seok hanya ingin Ji Hyun mengetahui sedikit tentang tata krama.

Gadis itu mengeluh, Min Seok menambah harinya semakin buruk ia pikir. “Oke baiklah, oppa. Aku hanya sedang tidak ingin bercanda atau buruknya bertengkar denganmu, jadi kenapa kau datang kemari?”

Terlihat jelas jika Ji Hyun ingin sekali pria bernama Min Seok itu enyah dari hadapannya.

“Kudengar dari bibi Ahn kau terkena lemparan bola basket?” Min Seok sejujurnya sudah menahan tawa sejak ia menginjakan kaki di kamar milik Ji Hyun. Bengkak kebiruan di dahinya terlihat jelas tadi.

Ji Hyun menghentikan kegiatan menyisir rambutnya, menatap Min Seok dengan tampang datar. “Hum, benar. Pria dengan tampang keledai busuk yang melakukannya, apa ia tidak punya mata?” Ji Hyun bahkan masih saja mengatai pria itu seperti seekor keledai.

“Lain kali kau harus berhati-hati, banyak anak laki-laki yang suka bermain bola basket dengan anarkis. Mereka terlalu bersemangat kau tahu,” Min Seok memberikan nasihat seolah kejadian itu adalah kesalah Ji Hyun.

Padahal gadis itu hanya hendak berjalan-jalan di sekitar rumahnya, menghabiskan waktu sore untuk melihat sesuatu yang baru bersama bibi Ahn. Entahlah, ia tidak tahu pasti kenapa kesialan itu bisa menimpa pada dirinya.

Pria dengan tampang keledai—panggilan Ji Hyun untuk pria berkaos biru, benar-benar membuat harinya memburuk.

“Apa yang kau katakan barusan mengingatkanku pada insiden dimana kau melempar bola basket dan mengenai seorang ahjumma.” Ji Hyun terkikik geli.

Masa-masa dimana Min Seok suka menghabiskan waktu untuk bermain basket dan insiden dimana pria itu dimarahi seorang ahjumma terputar dalam otaknya.

“Jangan mengingatkanku tentang hal itu,” Min Seok mengeluh, kalau ia pikir-pikir itu kejadian yang cukup memalukan untuk diingat.

Ji Hyun hanya mengangguk. Ia juga tidak berniat untuk menggoda kakaknya itu tentang kejadian lima tahun yang lalu. Bisa saja Min Seok akan memusuhinya karena sudah mengungkit hal itu lagi.

Gadis itu melirik ke arah sebuah paper bag yang sejak tadi di bawah Min Seok. Sebuah kantong kertas dengan motif polkadot yang sejak tadi menarik perhatian Ji Hyun. Ia sedikit penasaran sebenarnya.

Min Seok yang tahu kalau gadis itu sudah mulai menunjukan raut penasaran, menyodorkan kantong kertas itu kehadapan Ji Hyun. “Tugas untuk besok, kau harus membayarku karena sudah menyelesaikannya,”

“Apa ini?”

Dengan bodohnya Ji Hyun bertanya lagi.

“Sudah kubilang bukan? Tugasmu untuk besok,” Min Seok melenguh.

Ji Hyun menaikkan sebelah alisnya. Masih tampak kurang mengerti atau mungkin sangat tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Min Seok. “Aneh sekali jika aku sudah punya tugas, bahkan aku belum menginjakkan kakiku sedikitpun di sekolah itu”

Min Seok tersenyum tipis.

Sebenarnya ia sedang menahan sesuatu yang ada dalam dirinya.

Ji Hyun sudah benar-benar melewati batas.

“Jangan katakan kalau kau melupakan tentang acara sekolahmu besok?” Min Seok meletakkan paper bag itu di atas ranjang Ji Hyun dengan tidak santai—atau lebih tepatnya Min Seok melemparnya begitu saja.

Min Seok tidak ingin berlama-lama menjulurkan tangannya untuk waktu yang lama di depan wajah Ji Hyun. Karena faktanya gadis itu bahkan tidak menggubris sedikit pun tentang keberadaan paper bag itu.

Ia hanya memandangnya, catat hanya memandangnya dengan tampang polos dan tidak berniat sedikitpun untuk brang menyentuhnya saja. Tega sekali jika ia berniat membuat Min Seok meluruskan tangannya sekian lama hanya untuk sebuah paper bag.

“Acara sekolah apa?” Ji Hyun bahkan benar-benar lupa dengan masa orientasinya.

Dengan sangat sabar—dan wajah menahan napas, Min Seok perlahan menjelaskan. “Kau tidak benar-benar lupa mengenai masa orientasimu itu ‘kan?”

| To Be Continue |

Hi Guys! Thank You for read my fanfiction! Terimakasih buat semua readers yang selama ini sudah mensupport aku dengan komentar-komentar kalian yang sudah aku baca, baik dengan komentar yang sudah aku jawab atau belum. The fact is aku masih belajar dalam dunia perFFan, jadi kalau aku masih dalam kurang baik dalam penulisan, aku minta maaf. Once again, thanks for read my fanfiction and please leave some comments after you read it. Tysm. Want to know more about me? You can follow me @byvnbae on twitter.

See You!^^~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s